Lestarikan Hutan Adat, UNILAK dan Ninik Mamak Kenegerian Kampa Tandatangani MOU
Bahtera Alam, Pekanbaru – Universitas Lancang Kuning melaksanakan acara penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) dengan ninik mamak kenegerian Kampa di Aula Perpustakaan Universitas Lancang Kuning pada Jumat, 15 September 2021. Adapun isi dari MoU ini adalah UNILAK & Ninik Mamak Kenegerian Kampa bersepakat untuk mengimplementasikan Tridarma perguruan tinggi dan berkomitmen untuk melakukan pengembangan dan juga pengelolaan hutan adat. Dalam acara ini turun hadir, Dr. Junaidi, SS., M.Hum (Rektor Universitas Lancang Kuning),...
read moreMenggali Potensi Adat Hutan Imbo Putui dengan Ragam Pesona
Kampar, (riaupos,co) – Geliat Ekowisata di Tengah Pandemi Covid-19. MEMILIKI anak sungai yang mengalir bening dan sejuk, dengan air yang dangkal dan dapat diminum, Hutan Adat Imbo Putui menjadi tempat yang memesona dan menarik perhatian. Area ini menjadi kebanggaan warga Masyarakat Adat Kenegerian Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Kabar keelokan alam Imbo Putui dengan cepat tersebar ke berbagai penjuru Bumi Lancang Kuning. Pada Idul fitri tahun lalu, tiba-tiba banyak pengunjung yang datang untuk menikmati suasana dan...
read moreMenegakkan Kembali Hutan Adat Imbo Putui di Tengah “Ancaman” Perkebunan Sawit
RIAUONLINE, PEKANBARU – Kawasan hutan adat di Riau masih menyimpan ragam permasalahan yang kompleks, terutama akibat keberadaan industri kelapa sawit di sekitarnya. Contoh kasusnya seperti yang terjadi di Hutan Adat Imbo Putui, Kenegerian Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar yang kini sedang bermasalah dengan sebuah perusahaan perkebunan sawit. Merespons hal itu, perkumpulan Bahtera Alam, Sawit Watch, WRI Indonesia, Sajogyo Institute bersama Fakultas Pertanian Unri menggelar seminar dan publikasi hasil studi Hutan Adat Imbo...
read moreBahtera alam dan Sawit Watch Taja Diseminasi Studi Hutan Adat Imbo Putui
Bahtera Alam, Pekanbaru – Pada Februari 2021, Sajogyo Institute, Bahtera Alam, Sawit Watch, dan WRI bersama dengan Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Petapahan melakukan sebuah studi bertema Hutan Adat Imbo Putui, sebuah hutan adat yang berada di tengah konsesi sawit. Studi ini dilakukan berangkat dari persoalan hak tanah ulayat di Kenegerian Petapahan yang bersengketa dengan perusahaan sawit, sehingga perlu dilakukan studi bagaimana situasi dan Kondisi Hutan Adat Imbo Putui, dulu dan sekarang setelah dikelilingi konsesi sawit. Selain itu...
read morePesta Adat Kenegerian Kampa, Keunikan yang Bernilai Sakral
[Oleh : Nuskan Syarif] Kenegerian Kampa merupakan salah satu kenegerian yang telah mendapatkan pengakuan Masyarakat Hukum Adat dan Hutan Adat oleh pemerintah Republik Indonesia. Kenegerian Kampa memiliki dua Hutan Adat yang diakui oleh negara yaitu Hutan Adat Imbo Pomuan dan Hutan Adat Imbo Boncah Lidah. Kedua hamparan Hutan Adat ini memiliki keunikan dan peruntukan sendiri oleh Masyarakat Hukum Adat dan dilindungi secara penuh oleh Hukum Adat Kenegerian Kampa. Kenegerian yang ada di Kabupaten Kampar memiliki pranata adat dan budaya yang unik...
read moreGetah Karet Sumber Ekonomi MHA di Subayang
[Oleh : Nuskan Syarif] Kebun karet milik masyarakat adat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Subayang memiliki perjalanan panjang, sehingga tidak heran jika banyak pohon karet yang tumbuh di kawasan tersebut sudah berumur hampir ratusan tahun, lingkar pohonnya bahkan ada mencapai seukuran gentong atau diamater sekira 60 cm. Uniknya pepohonan karet tumbuh di dalam hutan bercampur baur dengan pohon kayu alam, dan sama rimbunnya karena tumbuh bersamaan dengan tumbuhan asli hutan. Maka tidak heran jika melihat riwayat pengelolaan karet di DAS...
read morePetai : Sumber Pendapatan Alternatif di Subayang
[Oleh : Nuskan Syarif] Hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling merupakan salah satu sumber penghidupan bagi masyarakat di kenegerian yang berada di sepanjang DAS Subayang. HHBK ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber pendapatan, sumber makanan, dan sumber bibit untuk tanaman. HHBK yang dimanfaatkan terdiri dari HHBK non komersil dan komersil. HHBK yang non komersil biasanya diambil secara langsung di hutan untuk konsumsi keluarga. Terdapat juga beberapa jenis yang dibudidayakan di ladang...
read moreMasyarakat Adat Penjaga Hutan Sejati
[Oleh : Nuskan Syarif] Kenegerian Gajah Bertalut merupakan salah satu Kenegerian yang masuk ke dalam kekhalifahan Batu Songgan, dan sebagaimana Batu Songgan dan Malako Kociak, kenegerian ini juga berada di kawasan pesisir Sungai Subayang yang jernih dengan banyak riam di sepanjang alirannya. Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Gajah Bertalut telah mendiami wilayah adat mereka sejak ratusan tahun lalu sebelum Indonesia merdeka, dan hingga kini identitas budaya, sistem nilai, dan adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek...
read morePiyau Terbaik dari Pengrajin Desa Terusan
[Oleh : Hari Novar] Pighau (piyau) merupakan jenis perahu yang digunakan oleh masyarakat di aliran Sungai Subayang, Kampar Kiri Hulu. Piyau sudah menjadi moda transportasi utama bagi masyarakat di kawasan ini, karena jarak desa dengan desa lain hanya bisa dicapai dengan menggunakan perahu mengikuti aliran sungai yang membelah kawasan hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Piyau terbagi 2 jenis, yaitu Robin dan Johnson. Dinamakan Robin atau Johnson berasal dari merek mesin tempel yang digunakan sebagai penggerak pada perahu dan...
read morePerempuan Adat : ‘The Hero’ Keluarga
[Oleh : Nuskan Syarif] Perempuan adat di dalam luhak (territorial) Kekhalifahan Batu Songgan, memiliki peranan penting dalam perekonomian rumah tangga. Aktivitas mereka dalam berbagai hal untuk menopang pendapatan keluarga tidak bisa dipandang sebelah mata. Contohnya kamu perempuan di Kenegerian Aur Kuning, mereka ikut membantu suami pergi manakiak atau memotong karet, tidak jarang mereka melakukannya sendiri. Sebelum berangkat manakiak, kaum perempuan selalu mempersiapkan bekal dan peralatan menoreh. Uniknya sejak dini hari, mereka sudah...
read more