Perempuan Adat Baris Terdepan dalam Pengelolaan SDA
Bahtera Alam, Siak Sri Indrapura – Suku Sakai Bathin Sobanga dan Suku Asli Anak Rawa merupakan dua komunitas suku asli di Riau yang sampai saat ini masih memiliki Hutan Adat walaupun masih dalam tahap pengusulan untuk mendapat pengakuan dari negara. Kedua komunitas suku asli ini memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) seperti hutan dan sungai. Dalam pengelolaan sumber daya alam tersebut, Perempuan Adat memiliki peran besar dan berada dalam baris terdepan untuk mewujudkan ketahanan ekonomi, peranan sosial, maupun...
read moreBudaya Meramu dan Berburu Suku Sakai, Terkikis Modernisasi
Bahtera Alam – Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat adat Suku Sakai khususnya Bathin Sobanga memiliki budaya berburu dan meramu. Berburu dan meramu merupakan pola kehidupan masyarakat adat Suku Sakai sejak dahulu kala, dan dilakukan oleh kaum laki-laki (orang tua, pemuda, dan anak laki-laki yang beranjak dewasa). Orangtua akan mewariskan ilmu berburu dan meramu kepada anak laki-laki mereka agar ketika dewasa kelak memiliki bekal di dalam membangun rumah tangga. Hewan yang biasa diburu adalah adalah dari jenis rusa, kijang, napuh,...
read morePerempuan Adat dan Pengelolaan SDA
Bahtera Alam – Di saat matahari pagi timbul di ufuk Timur dan diiringi kicauan burung bersahutan, seorang Perempuan Adat telah ‘tenggelam’ dalam aktivitas rutin harian dengan berbagai kegiatan rumah tangga. Setelah selesai mengurus segala keperluan keluarga, sang ibu mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk berangkat ke kebun. Sebuah ambung (wadah yang ukurannya mirip karung yang dianyam menggunakan rotan) disandang di kepala menggunakan tali, lalu ia berjalan perlahan keluar rumah menuju lokasi kebun karet yang jaraknya lumayan jauh...
read moreBuah Berangan, Potensi Tersembunyi dari DAS Subayang
Bahtera Alam – Pohon Berangan (Castanea spp) atau Kastanye merupakan tanaman yang hidup di hutan dan menghasilkan buah yang disebut dengan Buah Berangan (Bangan) atau istilah asingnya Chestnuts (kacang keju). Beberapa puluh tahun silam pohon Berangan sangat awam bagi masyarakat Riau karena banyak tumbuh di dalam kawasan hutan di Riau, tetapi karena deforestasi yang tinggi – penebangan hutan yang bertujuan mengubah lahan hutan menjadi non hutan, keberadaan pohon ini ikut menghilang sehingga saat ini Berangan termasuk dalam daftar...
read moreTanaman Sagu di Gambut Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat Sungaitohor
Bahtera Alam – Ekosistem gambut berperan penting bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya, dan memiliki kemampuan menyimpan karbon dua kali lebih banyak dari pada hutan di seluruh dunia, menjadikan ekosistem gambut sebagai salah satu kunci dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Berdasarkan data dari CIFOR (2019), Indonesia termasuk sebagai 5 besar negara pemilik lahan gambut di dunia dengan luas sekitar 22,5 juta hektar, yang tersebar di beberapa provinsi, salah satunya adalah Provinsi Riau. Diketahui bahwa Riau...
read moreBersama NGO, UPT KPH Kampar Kiri Sosialisasi Program Perhutanan Sosial
Riauterkini, PEKANBARU – Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kampar Kiri beserta Non-Governmental Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Yayasan Masyarakat Kehutanan Lestari (YMKL) dan Bahtera Alam (BA) bersinergi mendorong implementasi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 9 Tahun 2021 Tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial (PS). Program (PS) bagi kesejahteraan rakyat melalui kegiatan sosialisasi dan fasilitasi dilaksanakan di Desa Sungai Rambai Kecamatan Kampar Kiri, Selasa...
read morePotensi Ekonomi Buah Idan dari DAS Subayang
Bahtera Alam – Hutan sebagai kesatuan ekosistem memiliki sumber daya alam hayati yang berlimpah, sehingga mampu memberikan manfaat besar bagi masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan hutan. Sumber daya alam hayati yang banyak dihasilkan oleh hutan salah satunya adalah buah-buahan hutan. Masyarakat yang tinggal di Luhak Kekhalifahan Batu Songgan yang wilayahnya berada dalam kawasan hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, pada setiap akhir tahun dan memasuki awal tahun akan selalu panen buah-buahan hutan, karena...
read morePerlu Riset untuk Ungkap Potensi Hutan Adat Ghimbo Pomuan
Bahtera Alam – Perjuangan Masyarakat Hukum Adat di Kenegerian Kampar yang didorong oleh Tim Kerja Percepatan dan Penetapan Hutan Adat Kampar (TKP2HAK) untuk mendapatkan pengakuan atas Hutan Adat akhirnya tercapai. Presiden Jokowi secara resmi menyerahkan Surat keputusan (SK) Perhutanan Sosial untuk 20.890 kepala keluarga termasuk diantaranya SK pengakuan dua Hutan Adat pada Jumat (21/2/2020) di Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim, Kabupaten Siak, Propinsi Riau. Pengakuan negara secara resmi atas dua Hutan Adat tersebut merupakan yang...
read morePengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Bentuk Dukungan Kesepakatan COP26
Bahtera Alam – Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki luas hutan 125,2 juta hektar, dan itu termasuk luasan yang cukup besar. Terbukti dunia menyebut Indonesia menjadi benteng terakhir planet bumi bersama Amazon (Brazil) dan Hutan Kongo (Afrika), dunia mengakui itu pada Konferensi Iklim ke-26 atau COP26 di Glasgow, Skotlandia. Adapun luas tersebut terbagi diantaranya 29,1 juta hektar sebagai kawasan hutan produksi tetap, 26,7 juta hektar sebagai kawasan hutan produksi terbatas, 29,5 juta hektar sebagai kawasan hutan...
read moreKeberadaan 2 Perusahaan Sawit Ternama Mengancam Ekosistem Sungai dan Hutan Adat Pertama di Riau
SuaraRiau.co, PEKANBARU – Hutan adat Imbo Putui merupakan hutan adat Riau pertama yang baru diakui oleh negara pada 17 September 2019, melalui SK Nomor 7503/MENLHK-PSKL/PKTHA/KUM.1/9/2019. Namun hutan adat Imbo Putui terdampak oleh ekspansi sawit di sekitarnya. Hal ini dikatakan Direktur Bahtera Alam dalam konferensi pers, Senin (1/11/2021). Saat ini bahkan keberadaannya dikelilingi oleh kebun sawit. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah posisinya yang justru berada di hilir, sehingga ekosistem sungainya juga terdampak berat oleh...
read more