Potensi Ekonomi Buah Idan dari DAS Subayang

Posted By admin on Feb 7, 2022


Bahtera Alam – Hutan sebagai kesatuan ekosistem memiliki sumber daya alam hayati yang berlimpah, sehingga mampu memberikan manfaat besar bagi masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan hutan. Sumber daya alam hayati yang banyak dihasilkan oleh hutan salah satunya adalah buah-buahan hutan.

Masyarakat yang tinggal di Luhak Kekhalifahan Batu Songgan yang wilayahnya berada dalam kawasan hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, pada setiap akhir tahun dan memasuki awal tahun akan selalu panen buah-buahan hutan, karena pada periode waktu tersebut adalah saat memasuki musim buah. Jenis buah-buahan yang umum dipanen masyarakat antara lain buah tughiang, tampui, cempedak hutan, langsat, palasan, dan lain sebagainya. Jika memasuki awal tahun, akan dijelang pula musim buah durian dan buah rambutan.

Ada salah satu buah yang unik dan eksotis, namanya buah idan/redan, buah ini tidak umum dijual dan dikonsumsi oleh orang di perkotaan namun bisa menjadi pilihan. Buah ini banyak tumbuh pada musim-musim tertentu terutama pada setiap awal tahun dan memiliki cita rasa unik, ketika dimakan rasa manis dan asam berbaur menjadi satu di lidah.

Jika dihitung ternyata potensi buah idan sangat besar. Masyarakat yang berada di DAS Subayang seperti Desa Terusan, saat panen besar bisa memanen buah idan mulai 500 kg hingga 2000 kg perhari. Penampung buah idan di kampung sanggup menghargai buah yang dipanen dan dikumpulkan oleh masyarakat pada kisaran harga Rp.5000/kg. Setiap pemanen mampu menjual mulai 50 kg hingga 100 kg. Terkadang memanen buah idan bisa dilakukan masyarakat di saat pulang dari memotong getah (menyadap karet) dan tentunya menjadi penghasilan tambahan bagi masyarakat.

Masyarakat di Kenegerian Terusan memanen buah idan secara berkelompok yang pohonnya banyak tumbuh di dalam hutan Bukit Rimbang Bukit Baling atau di dalam ghimbo istilah orang lokal.

Kelompok-kelompok kecil pemanen terdiri dari 3 hingga 5 orang, mereka berangkat pagi dan pulang di saat sore dan menempuh perjalanan dalam hutan 2 hingga 3 jam. Kelompok-kelompok ini memang fokus untuk pemanenan agar mendapatkan hasil yang banyak, bahkan ada yang bermalam di hutan sambil memikat/menangkap burung (ungge).

Buah-buahan hutan sebagai salah bagian dari hasil hutan bukan kayu (HHBK), bisa menjadi alternatif atau penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar hutan tanpa perlu harus menebang pohon. Selain mengambil hasil secara langsung dari hutan, pengembangan HHBK pun penting dilakukan karena dapat meningkatkan pendapatan masyarakat tempatan, memperluas lapangan pekerjaan, dan bisa meningkatkan nilai tambah.

Menurut sumber dari menlhk.go.id, saat ini tercatat 565 jenis HHBK dan baru diprioritaskan pada komoditi rotan, bambu, gaharu, sutera alam, madu, dan nyamplung. Sebanyak 565 jenis HHBK ini secara garis besar dibedakan atas jenis resin, minyak atsiri, minyak lemak, karbohidrat, buah-buahan, tanin dan getah, tanaman obat dan hias, rotan dan bambu, hasil hewan, jasa hutan, serta lainnya.

[Penulis : Nuskan Syarif/Editor : Momeye]

18

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *