Perempuan Adat : ‘The Hero’ Keluarga

Posted By admin on Jun 7, 2021


[Oleh : Nuskan Syarif] Perempuan adat di dalam luhak (territorial) Kekhalifahan Batu Songgan, memiliki peranan penting dalam perekonomian rumah tangga. Aktivitas mereka dalam berbagai hal untuk menopang pendapatan keluarga tidak bisa dipandang sebelah mata. Contohnya kamu perempuan di Kenegerian Aur Kuning, mereka ikut membantu suami pergi manakiak atau memotong karet, tidak jarang mereka melakukannya sendiri.

Sebelum berangkat manakiak, kaum perempuan selalu mempersiapkan bekal dan peralatan menoreh. Uniknya sejak dini hari, mereka sudah larut dalam aktivitas rumah tangga seperti menanak nasi, memasak sambal, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Jelang sinar matahari pagi menyingsing, mereka siap beranjak untuk manakiak. Selain bekal dan alat, sebuah ambuang (ambung – keranjang dari anyaman rotan) tidak lupa disandang. Area kebun karet biasanya ditempuh dengan berjalan kaki atau menggunakan perahu.

Selepas manakiak, saat menuju pulang, mereka menyempatkan diri mencari daun pandan yang biasa tumbuh di sekitar kawasan. Daun pandan bagi perempuan adat umum digunakan sebagai bahan dasar membuat anyaman tikar dan sejenisnya. Daun pandan kemudian dimasukkan ke dalam ambuang dan dibawa pulang. Ambuang juga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan berbagai jenis barang lainnya seperti bekal dan alat. Bagi masyarakat Melayu di nusantara yang hidup sebagai petani atau pekebun, ambuang menjadi benda tradisional yang selalu dibawa saat bepergian.

Dahulu di kala masyarakat adat masih berladang, kaum perempuan sehabis manakiak selalu ke ladang untuk menanam padi atau sayuran seperti cabe, bawang, tanaman rempah dan lainnya yang bisa memenuhi kecukupan dapur. Saat sekarang, berladang sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat karena situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan kehidupan mereka. Penetapan kawasan lindung atau suaka margasatwa di Bukit Rimbang Bukit Baling telah menutup akses masyarakat adat ke dalam kawasan hutan yang notabene sebagiannya merupakan wilayah adat milik masyarakat adat secara turun temurun. Gangguan babi hutan yang masif di area perladangan juga menjadi bagian persoalan, sehingga masyarakat memilih mencari sumber pendapatan lain agar ekonomi keluarga tetap terpenuhi.

Pagi sekali, kaum perempuan di Kenegerian Aur Kuning sudah memulai aktivitasnya. Kaum perempuan di sini telah menjadi penopang ekonomi keluarga sehingga pantas digelar ‘The Hero Keluarga.’ [Foto : Bahtera Alam].

Aktivitas masyarakat pergi manakiak dan lainnya di Kenegerian Aur Kuning khususnya kaum perempuan pada pagi hari sudah nampak ramai. Jika berdiri di sekitar jembatan Sungai Biawuik pada pukul sekira enam pagi, aktivitas lalu lalang perempuan-perempuan desa ini bisa terpantau dengan jelas. Deretan perahu pun terlihat hilir mudik dari hilir ke hulu dan sebaliknya menyusuri sungai. Setelah lewat pukul enam pagi, aktivitas lalu lalang akan berangsur sepi.

Pergi manakiak gota (menorah getah) bagi masyarakat khususnya di Kenegerian Aur Kuning telah menjadi pencaharian utama dan aktivitas rutin setiap hari bahkan sepanjang tahun, karena tidak ada lagi peluang mata pencaharian alternatif selain itu. Manakiak sudah menjadi jati diri masyarakat di sekitar kawasan ini, meskipun harga jualnya saat ini sering tidak menentu dan cenderung turun.

Peluang lain adalah bebalak (menebang kayu alam di hutan), meskipun dilarang pemerintah juga beresiko. Bebalak dilakukan oleh laki-laki, tetapi jika saat proses mengolah kayu untuk bangunan, kaum perempuan bisa ikut membantu, termasuk mengangkut hasil olahan tersebut ke sungai terdekat. [editor : Mu’ammar Hamidy]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *