Masyarakat Suku Sakai Ajukan Pengakuan Hutan Adat
RIAUONLINE, PEKANBARU – Gubernur Riau Syamsuar mengaku sudah lama mendapat laporan terkait kekhawatiran masyarakat adat Suku Sakai soal hutan adat. Salah satunya adanya pembangunan jalan tol dan pengeboran minyak. Hal itu disampaikan Rektor Universitas Lancang Kuning kepadanya usai berjumpa dengan Suku Sakai. “Sebenarnya persoalan hutan adat ini sudah cukup lama. Saya waktu itu setelah tahu permasalahannya, langsung meninjau lokasi karena masyarakat adat Suku Sakai khawatir hutan adat akan habis digunakan untuk pembangunan,”...
read moreKehidupan Masyarakat Adat Suku Akit dan Kearifan Lokal [tulisan 1]
[Sebuah luaran penelitian suku asli di Desa Jangkang Kabupaten Bengkalis] Tulisan 1 – Menurut catatan sejarah, terminologi ‘Akit’ berasal dari kata ‘Rakit.’ Dalam bahasa Melayu Pesisir, vokal huruf ‘r’ tidak begitu jelas diucapkan sehingga kata ‘rakit’ diucapkan ‘akit. Kenapa dinamakan Suku Akit? Faktor penyebabnya adalah karena suku asli menggunakan ‘rakit’ sebagai alat transportasi dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu pulau ke pulau lain. Oleh karena mereka...
read moreSuku Sakai Bathin Sobanga Serahkan Dokumen Usulan Hutan Adat Kepada Gubernur Riau
[BAHTERA ALAM] Sabtu, 30 Januari 2021, menjadi momen penting bagi Masyarakat Hukum Adat Sakai Bathin Sobanga. Pada hari itu, mereka menyerahkan Dokumen Usulan Pengakuan Masyarakat Hukum Adat, Wilayah Adat, dan Hutan Adat Suku Sakai Bathin Sobanga dan diterima langsung oleh Gubernur Riau di aula rumah dinas Gubernur Riau, Balai Pelangi. Terwujudnya momen penting ini merupakan langkah awal untuk mendapatkan pengakuan oleh negara, setelah melalui proses panjang sejak puluhan tahun yang lalu oleh masyarakat Suku Sakai, dan salah satunya oleh Suku...
read moreJalan Panjang Pengembalian Hak Masyarakat Adat Atas Hutan di Kampar Riau
RIAUONLINE, PEKANBARU – Berawal dari niat untuk memberi kepastian hukum bagi masyarakat adat Kampar. Terutama untuk mendapatkan akses pengelolaan sumber daya hutan dan menjadi solusi atas persoalan konflik tenurial yang marak terjadi di wilayah Riau, Sejumlah aktivis lingkungan terdiri atas unsur NGO seperti Bahtera Alam, AMAN Kampar, dan Pelopor, unsur Penyuluh Pertanian dan Hutan serta unsur akademisi menginisiasi sebuah tim kerja yang disebut dengan Tim Kerja Percepatan dan Penetapan Hutan Adat Kampar (TKPPHAK) pada tahun 2017....
read moreSuku Sakai Bathin Sobanga Ajukan Pengakuan Hutan Adat 240 Ha
Bahtera Alam, Pekanbaru – Suku Sakai merupakan salah satu kelompok Masyarakat Adat di Riau di antara banyak suku-suku lainnya yang tersebar di beberapa wilayah Bumi Lancang Kuning, seperti Suku Bonai, Akit, Anak Rawa, Suku Laut, Petalangan, Duano, Talang Mamak, dan Melayu. Suku Sakai banyak tersebar di wilayah Kabupaten Siak, Bengkalis, dan Rokan Hilir. Pada awalnya Suku Sakai sering disebut dengan suku terasing sebagaimana suku-suku terpencil lainnya yang ada di nusantara, tetapi kemudian penamaan masyarakat suku terasing kurang tepat,...
read moreMasyarakat Kampung Penyengat Desak Pemkab Siak Gesa SK Peta Wilayah Hutan Adat
Pekanbaru, Cakaplah.com – Tokoh-tokoh adat Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak mempercepat Surat Keputusan (SK) peta wilayah hutan adat di kampung tersebut. SK tersebut sebagai syarat usulan hutan adat Kampung Penyengat ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Dimana saat ini tahapan rencana usulan hutan adat itu mandek di Pemkab Siak. “Kami mendesak tim Pemkab Siak mempercepat tahapan SK peta wilayah hutan adat di Kampung Penyengat,” pinta...
read moreLegenda Putri Kaca Mayang dari Kerajaan Gasib
[Oleh : Nuskan Syarif] Kerajaan Gasib dahulu berada di Hulu Sungai Jantan (Sungai Siak), Kerajaan Gasib sendiri merupakan kerajaan Hindu/Budha sebelum agama Islam masuk dan menjadi agama kerajaan. Banyak sejarah dan kisah dengan berbagai versi diceritakan oleh masyarakat Kampung Adat Gasib. Konon Kerajaan Gasib yang berdiri pada abad ke 14 dan 15 menjadi penerus Kerajaan Sriwijaya setelah runtuh pada sekitar akhir abad ke 13. Demikian Juru Kunci Makam Putri Kaca Mayang membuka alkisah saat berbincang-bincang dengan Nuskan Syarif dari Bahtera...
read moreTangkasnya Pemuda Batu Songgan dalam Tradisi Manabok ikan
[Oleh : Nuskan Syarif] Manabok Ikan merupakan tradisi menangkap ikan yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda di Kekhalifahan Batu Songgan, khususnya di Kenegerian Batu Songgan. Sebagai tradisi lokal, tidak semua orang bisa melakukannya karena perlu kemampuan khusus dan kebiasaan dalam menangkap ikan berenang liar di aliran Sungai Subayang yang deras. Jenis ikan yang ditangkap adalah beberapa jenis ikan seperti Kulaghi yang terkenal dengan kecepatannya berenang di arus deras, dan Sungai Subayang dengan ekosistemnya masih lestari menjadi...
read moreSambagh Bakacau, Sambal Tradisi Khas Kampar Kiri Hulu
[Oleh : Nuskan Syarif] Kekhalifahan Batu Songgan memiliki banyak tradisi yang unik dan masih berkekalan hingga saat ini, salah satunya adalah tradisi masakan tradisional. Konon siapa yang sudah pernah mencicipi masakan khas daerah ini, maka akan rindu kembali untuk mencicipinya. Salah satu masakan unik asli tradisi tempatan yang selalu menggugah selera adalah Sambal (Sambegh) Bakacau. Sambagh Bakacau adalah masakan khas masyarakat hukum adat yang tinggal di sepanjang sungai Subayang, sungai yang membelah hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimba...
read moreInpres Moratorium Sawit Tidak Berdampak Nyata bagi Petani Kecil
[Oleh : Hasri Dinata] Kampung Mengkapan adalah kampung tertua di wilayah Kecamatan Sungai Apit , Kabupaten Siak Provinsi Riau. Kampung ini berdiri pada tahun 1911 berkat swadaya masyarakat pada masa itu. Kampung tua ini hampir 70% tanahnya bergambut dan di atas lahan tersebut masyarakat mengelolanya menjadi kebun kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan ekonomi meskipun dalam luas lahan yang terbatas. Bapak Hasan yang ditemui Hasri dari tim Bahtera Alam, dalam kesempatan itu menceritakan pengalaman dalam mengolah kebun miliknya. Sebagai salah...
read more