Tangkasnya Pemuda Batu Songgan dalam Tradisi Manabok ikan

Posted By admin on Aug 10, 2020


[Oleh : Nuskan Syarif] Manabok Ikan merupakan tradisi menangkap ikan yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda di Kekhalifahan Batu Songgan, khususnya di Kenegerian Batu Songgan. Sebagai tradisi lokal, tidak semua orang bisa melakukannya karena perlu kemampuan khusus dan kebiasaan dalam menangkap ikan berenang liar di aliran Sungai Subayang yang deras.

Jenis ikan yang ditangkap adalah beberapa jenis ikan seperti Kulaghi yang terkenal dengan kecepatannya berenang di arus deras, dan Sungai Subayang dengan ekosistemnya masih lestari menjadi khasanah bagi masyarakat sekitar untuk melakukan tradisi Manabok Ikan. Tradisi ini tidak setiap saat dan tempat bisa dilakukan. Tradisi Manabok ikan harus menunggu kondisi air surut dan khusus pada beberapa area di sepanjang sungai ada larangan menangkap ikan karena telah ditetapkan secara adat sebagai bagian dari Lubuk Larangan.

Seorang penabok ikan harus memiliki ketahanan napas saat menyelam, memiliki kelihaian tangan untuk menangkap ikan, dan kaki yang kokoh untuk melawan derasnya arus Subayang. Dalam melakukan tradisi ini tidak memerlukan alat khusus, kemampuan individu sangat diperlukan dan semua ketangkasan ini banyak dimiliki oleh anak-anak muda Kenegerian Batu Songgan.

Kemampuan mereka sangat mengagumkan, sekali menyelam dan saat naik ke permukaan selalu berhasil membawa ikan satu persatu ke dalam perahu, ikan lalu ditaruh ke dalam wadah terbuat dari anyaman rotan. Tak lama, wadah penuh dengan ikan-ikan segar. Uniknya, anak-anak seusia 6 hingga 14 tahun ikut serta terjun ke sungai melakukan tradisi menangkap ikan ini, dan biasanya mereka lakukan secara bersama-sama.

Tradisi Manabok Ikan dilakukan di siang hari, sehingga kegiatan menarik anak-anak desa ini dengan cukup jelas bisa diperhatikan dan diikuti. Penulis pernah mencoba untuk menjajal kemampuan dalam menangkap ikan. Belajar dari cara dan kemampuan mereka, sepertinya tidak terlalu sulit, tetapi setelah dipraktekkan ternyata tidak semudah dibayangkan. Tidak pernah penulis berhasil menangkap ikan seekor pun, selain arus yang cukup deras dan ikan yang berenang liar, ketangkasan individu juga sangat diperlukan untuk bisa menjajal tradisi menangkap ikan ini.

Ketangkasan anak-anak Batu Songgan dalam aksi Menabok Ikan tidak diragukan, dengan lincah mereka melawan derasnya arus untuk bisa menangkap ikan di Sungai Subayang [Foto : Bahtera Alam]

Pernah suatu ketika penulis ikut dalam kegiatan ini dan saat itu tidak berhasil mendapatkan seekor ikan pun, sekonyong-konyong terdengar seloroh anak-anak tempatan sambil tertawa, “ Ayo bang, tak payah do, abang tinggal nyelam, tengok ikannyo, langsung tangkap.” Ya, begitu mudahnya mereka anak-anak muda Batu Songgan ini berkata-kata, padahal alangkah sulitnya jika menangkap ikan ini dipraktekkan.

Bagi penulis, sungguh sangat mengherankan ketika melihat kelincahan dan kelihaian anak-anak Kenegerian batu Songgan dalam beraksi. Ketahanan menyelam mereka patut diacungi jempol dan kemampuan mereka menantang derasnya arus sungai memang tidak ada duanya, tidak jarang sekali tabok bisa dapat satu atau dua ekor ikan. Ketangkasan ini sepertinya turun dari leluhur mereka yang sangat erat bersebati dengan alam, sehingga alam pun serta merta mencurahkan kekayaannya kepada masyarakat sepanjang Sungai Subayang yang masih menjaga kelestarian sungai dan hutan secara kearifan lokal.

Budaya dan tradisi Masyarakat Hukum Adat akan terus ada jika nadi kehidupan antara manusia dan alam terus dijaga dan dilestarikan. Masyarakat Hukum Adat sangat bergantung pada kelestarian serta kekayaan hutan dan sungai, sehingga penjagaan kawasan ini harus terus dilakukan secara turun temurun karena disinilah mereka hidup dan meneruskan penghidupan hingga ke generasi yang akan datang.

Hadirnya kebijakan pemerintah dalam perlindungan kawasan hutan juga sangat dibutuhkan, dan dalam menetapkan kawasan lindung harus memperhatikan eksistensi dan mengikutsertakan Masyarakat Hukum Adat yang telah ada sejak lama dan turun-temurun mendiami kawasan tersebut, sehingga tidak terjadi benturan kepentingan yang bisa merugikan. Kemampuan masyarakat adat dalam melindungi dan mengelola kawasan hutan dan sungai sudah teruji, terbukti dengan yang sudah dilakukan khususnya oleh masyarakat adat yang berada di Kekhalifahan Batu Songgan.

Budaya Manabok Ikan pasti akan hilang apabila hutan telah habis ditebang dan sungai telah mengering. Selain itu, pelarangan sepihak atas akses masyarakat terhadap kawasan hutan di sekitar mereka akan mengubur secara perlahan budaya yang sudah mereka jaga turun temurun. Adanya akses dan ruang kelola bagi Masyarakat Hukum Adat terhadap pengelolaan wilayah hutan dan sungai secara kearifan lokal menjadi kunci bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan dan kelestarian hutan di masa yang akan datang.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *