Menaruh Hajat di Ulu Kedi

Posted By admin on May 19, 2026


Bahtera Alam – Di kalangan komunitas Suku Asli di Kepulauan Meranti, ada satu tempat keramat yang dipercaya dapat membantu mengabulkan hajat. Tempat keramat itu berada di Desa Kayu Ara, Kecamatan Rangsang Barat. Suku Asli menyebutnya Ulu Kedi. Merupakan suatu tempat pemujaan berbentuk bangunan persegi dengan atap untuk menaunginya. Bangunan berukuran sekitar 1 x 1,5 meter itu berwarna kuning terang dengan cat yang terlihat mulai usang. Di depannya terdapat kain kuning yang membentang dengan dua tulisan, satu aksara Cina dan satu lagi latin dengan kalimat “DATUK ULU KEDI.”

Di sisi tempat pemujaan terdapat potongan kain warna warni, tetapi dominan kuning dan putih. Dari jalan besar Desa Kayu Ara, untuk mencapai Ulu Kedi, harus melalui jalan setapak, menyibak semak belukar. Konon jika sedang meminta sesuatu di Ulu Kedi dan didatangi binatang sejenis kera maka kemungkinan besar hajatnya akan terkabul. Orang yang meminta hajat di Ulu Kedi harus berhati-hati menjalankan ritual. Salah-salah, bukan berkah tapi justru musibah yang didapat.

Ulu Kedi bagi Suku Asli bukan sekadar tempat pemujaan, tetapi juga sebagai identitas budaya, spiritualitas, dan sejarah komunitas. Pelestarian terhadap situs ini penting sebagai upaya menjaga kelangsungan tradisi dan warisan budaya Suku Asli (Foto : BA)

Ulu Kedi merupakan salah satu tempat keramat yang amat penting bagi kehidupan Suku Asli. Tempat ini dipercayai dapat mengabulkan doa atau permintaan orang yang mempunyai hajat. Maka, jika masyarakat Suku Asli menghadapi persoalan kehidupan, maka mereka bernazar ke tempat ini. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk meminta di tempat keramat ini, yaitu dengan cara datang langsung ke tempat keramat dan berdoa atau meminta di sana. Sedangkan bagi yang berada jauh di rantau dapat meminta atau berdoa dari jarak jauh. Artinya yang punya hajat tidak perlu datang langsung ke tempat keramat. Permintaan dari jarak jauh ini mungkin saja dilakukan, karena mereka menganggap “Datuk” dapat mendengar doa mereka di manapun mereka mengucapkan doa tersebut.

Ulu Kedi menjadi perantara bagi masyarakat Suku Asli yang memiliki nazar. Misalnya, jika seseorang sakit dan dia berdoa meminta kesembuhan di Ulu Kedi, dalam berdoa jika dia sembuh, dia akan menggantungkan kain putih, kain kuning, kain merah dan kain hitam dengan ukuran tertentu sebagai bentuk ucapan rasa syukur atas kesembuhannya. Mereka percaya, jika nazar tersebut tidak ditepati maka dia akan mendapatkan bala atau malapetaka.

Mengenai sejarah Ulu Kedi, menurut tokoh masyarakat Desa Sonde, dulunya ada Nek Bontak yaitu nenek moyang dari bomo Bele Kampung sekarang. Nek Bontak ini diberi kunci oleh keramat Ulu Kedi dengan pesan jangan sampai terbuka tutupnya. Jika terbuka maka “orang tua laut” akan beranak pinak. Maka setiap tahun kunci tersebut harus diganti kain, dan harus kain kuning ataupun kain putih. Sebelum diberi kunci dulunya “orang tua laut” menangkap orang setahun sekali. Nah orang yang memegang kunci harus keturunan yang bersangkutan.

Sumber :
Semburat Akit – Melukis Cerita di Kepulauan Meranti, 2024. Perkumpulan Bahtera Alam.

7

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *