Suku Sakai Bathin Sobanga Ajukan Pengakuan Hutan Adat 240 Ha

Posted By admin on Dec 4, 2020


Bahtera Alam, Pekanbaru – Suku Sakai merupakan salah satu kelompok Masyarakat Adat di Riau di antara banyak suku-suku lainnya yang tersebar di beberapa wilayah Bumi Lancang Kuning, seperti Suku Bonai, Akit, Anak Rawa, Suku Laut, Petalangan, Duano, Talang Mamak, dan Melayu. Suku Sakai banyak tersebar di wilayah Kabupaten Siak, Bengkalis, dan Rokan Hilir.

Pada awalnya Suku Sakai sering disebut dengan suku terasing sebagaimana suku-suku terpencil lainnya yang ada di nusantara, tetapi kemudian penamaan masyarakat suku terasing kurang tepat, karena eksistensi suku-suku dimaksud adalah sebagai Orang Asli atau penduduk yang paling ‘Asli’ di bumi nusantara ini. Oleh pemerintah RI ditetapkan soal penamaan bagi masyarakat suku terasing yang kemudian dikenal dengan istilah Komunitas Adat Terpencil (KAT). Istilah ini tertuang dalam Surat Keputusan Presiden No. 111 tahun 1999.

Bentuk kepemimpinan tradisional Suku Sakai berwujud ‘Sistem Perbathinan,’ yaitu Kepala Suku atau Penghulu dalam budaya Melayu. Perbathinan Sakai ada dua yaitu Bathin Selapan dan Bathin Limo yang menempati beberapa wilayah di Kecamatan Minas dan Kandis Kabupaten Siak, dan di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis hingga ke wilayah di Kabupaten Rokan Hilir. Sejumlah desa yang tercakup dalam Wilayah Bathin Limo di antaranya ada di wilayah Kabupaten Siak seperti Minas, Kandis, Belutu, Pinaso, dan Genggang. Sedangkan sejumlah desa yang tercakup dalam wilayah Bathin Solapan di antaranya ada di wilayah Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis seperti Desa Penaso dan Muara Basung dan di Kecamatan Bathin Solapan seperti Desa Kusumbo Ampai.

Dalam sejarahnya, asal usul perbathinan konon merupakan 13 keluarga, 1 yang membuat Banjar Panjang di kawasan hutan Mandau sebagai tempat tinggalnya. Bathin Solapan terdiri atas : Batin Bomban Petani, Batin Sebangar (Sobanga) Sungai Jeneh, Batin Betuah, Batin Bumbung, Batin Sembunai, Batin Jalelo, Batin Beringin, dan Batin Bomban Seri Pauh. Batin Limo terdiri atas Batin Tengganau, Batin Beromban Minas, Batin Belitu, Batin Singameraja dan Batin Meraso. Masing-masing kelompok kerabat mempunyai induk, yaitu Batin Solapan induknya adalah Batin Jalelo, dan Batin Limo induknya adalah Batin Tengganau [Sumber : dinsos.riau.go.id].

Hutan Adat
Dalam perkembangannya, Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang ada Riau sebagian besar sudah tidak lagi memiliki hutan adat sebagaimana dulu mereka hidup, di mana hutan menjadi tempat bernaung dan sumber kehidupan. Hutan bagi Komunitas Adat Terpencil atau masyarakat adat merupakan identitas, di hutan mereka menggantungkan hidup, semua kebutuhan sandang dan pangan diperoleh dari hutan. Masyarakat adat terbiasa memanfaatkan dan mengelola hutan dengan bijaksana dan mereka memegang teguh nilai-nilai budaya di kalangan masyarakat adat dalam menjaga hutan.

Melihat fakta bahwa eksistensi luasan kawasan hutan di Riau yang sudah menyusut drastis akibat eksploitasi berbasis bisnis untuk perluasan kawasan hutan tanaman industri (HTI) dan kebun sawit, muncul sepucuk surat dari Masyarakat Hukum Adat Suku Sakai Bathin Sobanga. Surat yang ditujukan kepada Gubernur Riau berisi soal keberatan masyarakat atas rencana pembangunan jalan tol Pekanbaru – Rantau Prapat yang akan membelah Hutan Adat milik masyarakat hukum adat Suku Sakai Bathin Sobanga. Hutan Adat bernama Imbo Ayo Bathin Sobanga ini berada di wilayah Desa Kesumbo Ampai dan memiliki luas ± 240 Ha.

Surat keberatan tersebut mendapat respon positif dari Syamsuar selaku Gubernur Riau dengan mengunjungi Desa kesumbo Ampai dan bertemu para ninik mamak di Rumah Adat Suku Sakai di Desa Kesumbo Ampai. Pertemuan itu menghasilkan keputusan bahwa pembangunan jalur lintasan jalan tol dimaksud akan dialihkan, rencananya akan dibangun di atas atau di bawah Hutan adat Imbo Ayo Bathin Sobanga.

Usulan Pengakuan Hutan Adat Bathin Sobanga
Dibalik kondisi hutan Riau yang punah ranah, ternyata nilai-nilai positif kearifan lokal milik masyarakat adat Suku Sakai Bathin Sobanga masih menyisakan sedikit Hutan Adat yang terjaga. Melihat peluang ini, Gubernur Riau kemudian menginstruksikan Kepala Dinas LHK Riau untuk mewujudkan eksistensi Masyarakat Hukum Adat dan Hutan Adat Suku Sakai Bathin Sobanga agar mendapat pengakuan dari negara.

Pada 10 Oktober 2020, Kepala Dinas LHK Riau, Maamun Murod meminta Bahtera Alam ikut mendampingi dalam rangka kunjungan kerja ke Desa Kesumbo Ampai Kecamatan Bathin Solapan Kabupaten Bengkalis, terkait sosialisasi tentang Perhutanan Sosial. Dalam kesempatan pertemuan tersebut selain soal Perhutanan Sosial, dilakukan diskusi perihal usulan untuk mendapatkan pengakuan Masyarakat Hukum Adat dan Hutan Adat. Diskusi dilakukan di Balai Adat bersama perwakilan Masyarakat Hukum Adat Suku Sakai Bathin Sobanga, ninik mamak, PLT Kepala Desa Kesumbo Ampai, dan pemuda adat. Pembicaraan soal usulan ini disambut antusias oleh masyarakat sehingga disepakati rencana untuk menyusun dan melengkapi dokumen persyaratan pengajuan segera ke pemerintah terkait.

Saat ini usulan pengakuan Masyarakat Hukum Adat dan Hutan Adat Suku Sakai Bathin Sobanga sedang dalam proses pendampingan oleh Bahtera Alam, pengajuan ini mendapat dukungan dari Dinas LHK Provinsi Riau dan Lembaga Adat Melayu Riau (LAM-Riau).

Nuskan Syarif selaku Direktur Program menjelaskan bahwa Bahtera Alam sesuai visi dan misinya mendorong partisipasi para pihak dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan termasuk mendorong pengakuan Masyarakat Hukum Adat dan Hutan Adat.

“Sekarang masyarakat Suku Sakai Bathin Sobanga sedang dalam proses pengajuan usulan untuk pengakuan Masyarakat Hukum Adat dan Hutan Adat, dan Bahtera Alam ikut mendampingi dalam proses pengusulan ini. Saat ini proses penyerahan dokumen usulan kepada Gubri akan dilakukan pada akhir Desember tahun ini,” ujar Nuskan.

Nuskan Syarif berharap penyerahan dokumen usulan bisa segera terlaksana, mengingat Syamsuar selaku Gubernur Riau terpilih saat ini memiliki apresiasi yang tinggi terhadap eksistensi Masyarakat Adat yang ada di Riau. [MOM-BA]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *