Kehidupan Masyarakat Adat Suku Akit dan Kearifan Lokal [tulisan 1]

Posted By admin on Jan 15, 2021


[Sebuah luaran penelitian suku asli di Desa Jangkang Kabupaten Bengkalis] Tulisan 1 – Menurut catatan sejarah, terminologi ‘Akit’ berasal dari kata ‘Rakit.’ Dalam bahasa Melayu Pesisir, vokal huruf ‘r’ tidak begitu jelas diucapkan sehingga kata ‘rakit’ diucapkan ‘akit. Kenapa dinamakan Suku Akit? Faktor penyebabnya adalah karena suku asli menggunakan ‘rakit’ sebagai alat transportasi dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu pulau ke pulau lain. Oleh karena mereka menggunakan transportasi rakit maka sebutan terhadap suku tersebut sampai sekarang adalah ‘Suku Akit.’ Suku Asli atau suku Akit adalah suku terasing atau masyarakat tradisional yang berdiam di sekitar pesisir Provinsi Riau, di mana hidup mereka bergantung pada sumber daya alam yang ada di sekitar mereka, salah satunya mereka memanfaatkan hutan mangrove sebagai sumber kehidupan.

Suku Akit merupakan salah satu suku yang saat ini masih memegang erat adat istiadatnya. Dalam perjalanan hidupnya, mayoritas masyarakat Suku Akit memang sangat peduli akan alam sekitarnya karena mereka juga tinggal dekat dengan alam.

Masyarakat Suku Akit dikenal dengan sebutan Orang Akik atau orang Akit. Orang Akit merupakan kelompok yang ada di lingkungan sosial, tepatnya di Provinsi Riau. Panggilan Akit sendiri dilatarbelakangi oleh kehidupan mereka yang sebagian dihabiskan di atas rakit. Rakit itu mereka pergunakan untuk pindah ke tempat yang baru di muara sungai dan di pantai laut.

Orang Akit juga membuat bangunan rumah sederhana yang terletak di sekitar pinggir pantai. Bangunan ini dipakai pada saat melakukan pekerjaan di darat. Tempat tersebut memang telah sejak lama dijadikan untuk bermukim Orang Akit. Hal ini dibuktikan dengan catatan sejarah yng mengatakan bahwa mereka pernah mempunyai hubungan saat perlawanan menghadapi pasukan Eropa yaitu pada zaman Kesultanan Siak.

Suku Akit merupakan salah satu suku yang tergolong Komunitas Adat Terpencil (KAT). Orang Akit atau Orang Akik, adalah kelompok sosial yang berdiam di daerah Hutan Panjang dan di pesisir pantai Kabupaten Bengkalis, Propivinsi Riau. Sebutan ‘Akit’ diberikan kepada masyarakat ini karena sebagian besar kegiatan hidup mereka berlangsung di atas rumah rakit. Sebagian besar Suku Akit bekerja sebgai buruh kasar di beberapa panglong (dapur) arang yang beroperasi di sekitar desa. Dapur arang menjadi mata pencaharian bagi mereka karena alam yang mereka handalkan tidak lagi mampu memenuhi kehidupan sehari-hari. Kayu bakau yang mereka cari bukan hanya untuk dijual tetapi juga untuk dijadikan arang.

Kearifan memanfaatkan pohon mangrove

Masyarakat Suku Akit memiliki kearifan dalam memelihara pohon mangrove atau bakau. Serumpun pohon mangrove biasanya terdiri dari beberapa batang (4 sampai 6 batang). Tidak seluruh batang dipelihara, batang paling kecil dan pertumbuhannya tidak lurus dibuang. Tujuannya agar pohon yang lain bisa berkembang dengan baik.

Penebangan pohon mangrove dilakukan dengan alat seperti kampak dan parang. Nilai kearifannya adalah tidak menggunakan bahan bakar sehingga lingkungan mangrove terjaga dari pencemaran bahan bakar minyak. Kayu yang diambil panjangnya antara 2-3 meter dengan diameter 5-10 cm.

Satu rumpun mangrove biasanya terdiri dari 5-8 batang. Masyarakat sangat arif dalam penebangan pohon, tidak seluruh pohon mangrove ditebang, pohon yang masih kecil tidak ditebang. Nilai kearifannya adalah memberi kesempatan untuk keberlanjutan pohon yang masih kecil untuk tumbuh dan berkembang menjadi besar.

Sistem penebangan pohon mangrove untuk arang tidak mendatar tetapi miring sekitar 45 derajat. Nilai kearifan penebangan tersebut adalah agar mudah tumbang dan posisi tumbang tidak menimpa pohon kecil.

Pohon mangrove yang sudah ditebang dimuat dan diangkut menggunakan perahu kecil yang terbuat dari kayu tanpa mesin, meskipun akhir-akhir ini ada yg menggunakan perahu kecil dengan mesin. Nilai kearifan perahu dari kayu adalah menggunakan bahan bakar organik yang berwawasan lingkungan karena limbah perahu yang sudah tidak terpakai lagi akan terurai di tanah.

Kayu mangrove memiliki banyak jenis antara lain Rhizoporaceae (rhizophora, bruguiera, dan ceriops). Sonneratiaceae (sonneratia), Avicenniaceae (avicennia), dan Meliaceae (xylocarpus). Masyarakat memiliki pengetahuan lokal (local knowledge) dalam menentukan jenis mangrove yang cocok unutk dijadikan arang. Jenis mangrove yang dijadikan arang adalah zipora (nama lokal), sedangkan nama latin Rhizoporaceae. Keunggulan jenis mangrove tersebut adalah kualitas arang bagus dan tidak mudah patah. Pengetahuan lokal tersebut disampaikan secara turun temurun dari orangtua kepada anaknya. Pengetahuan tersebut disampaikan melalui pengalaman tatkala mereka menebang mangrove.

Selain itu pengetahuan tersebut juga disampaikan ketika mereka menyeleksi kayu mangrove yang dijadikan arang dan yang dijadikan pembakar arang. Jenis mangrove zipora keistimewaannya adalah sebagian besar kayu tersebut lurus dan jenis kayu keras. Untuk bahan bakar arang adalah jenis kayu mangrove api-api atau nyirih.

Pendidikan Anak-anak Suku Akit di Pesisir Riau Memprihatinkan. Tampak anak-anak Suku Akit riang gembira bermain air di sekitar perahu [foto oleh : kumparan.com]

Bahan bakar organik

Salah satu kearifan lokal pengrajin arang kayu mangrove adalah menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan. Bahan bakar untuk memproses kayu menjadi arang adalah menggunakan kayu mangrove jenis api-api atau nyirih. Nilai kearifan lainnya, kayu jenis api-api atau nyirih dipercaya oleh pengrajin arang dapat menghasilkan arang yang lebih bagus, mengkilat, dan tahan lama. jadi penggunaan bahan bakar kayu merupakan perilaku untuk hemat pemakaian energi fosil.

Bila kayu yang sudah disusun penuh dalam panglong dan selanjutnya dilakukan proses pembakaran. Sebelum proses pembakaran biasanya dilakukan ritual khusus menurut agama dan kepercayaaan Suku Akit yaitu Buddha. sebelum pembakaran, pemilik panglong terlebih dahulu sembahyang di depan pintu panglong dengan membakar dupa. Tujuannya adalah agar proses pembakaran selamat dan tidak terjadi halangan sampai pembakaran arang.

Jenis mangrove yang dijadikan arang karena memiliki kualitas bagus dan tidak mudah patah, lurus, dan jenis kayu yang keras, adalah dari jenis zipora (nama lokal), sedangkan nama latinnya adalah rhizoporaceae. Pengetahuan lokal tersebut disampaikan turun temurun dari orangtua ke anaknya. pengetahuan tersebut disampaikan melalui pengalaman tatkala mereka menebang mangrove. begitu juga saat menyeleksi kayu magrove yang dijadikan arang dan yang dijadikan pembakar arang.

Bangunan Panglong arang dilengkapi atap dari daun rumbia agar bangunan tidak kena hujan, dan kearifannya adalah atap rumbia merupakan bahan organik yang ramah lingkungan.

Kualitas arang menurut pengrajin arang dari Suku Akit ada tiga kategori, yaitu :
a. Arang bagus/tidak pecah dan patah – Dijual ke luar daerah atau ke luar negeri;
b. Arang pecah -Untuk konsumsi tukang sate, kedai kopi, warung pecal lele, dan warung/restoran RM padang untuk bakar ikan dan ayam;
c. Abu arang/arang yg sdh hancur – Dijual bila ada pesanan dari pembeli, biasanya dimanfaatkan oleh petani utk pupuk.

Abu arang/arang yang sudah hancur belum dimanfaatkan secara maksimal. Pernah ada pelatihan membuat briket arang, tapi tidak berlanjut karena tidak ada dana dan kesulitan mendapatkan cetakan dan bahan-bahan yang diperlukan. Akhirnya abu arang hanya dibuang di sekitar panglong sebagai wadah resapan air.

Aktivitas pengrajin arang sedang mempersiapkan kayu bakau yang akan diolah di dalam panglong untuk dibakar menjadi arang [sumber foto : travelingyuk.com]

Budaya masyarakat Suku Akit

Warna biasanya menjadi simbol budaya masyarakat tidak trrkecuali masyarakat Suku Akit. Perahu untuk mengangkut kayu mangrove atau untuk mencari ikan juga diberi warna terutama bagian haluan yang disebut ‘tangkap’. Tangkap tersebut ada yg berwarna biru, hijau, atau putih dan merupakan simbol perahu milik masyarakat Suku Melayu dan Suku Akit. Tangkap warna putih jarang digunakan, tangkap warna merah adalah simbol perahu milik masyarakat Tionghoa. Warna tangkap masyarakat Tionghoa berbeda dengan masyarakat Suku Akit. hal ini juga merupakan salah satu alasan yang kuat Suku Akit memang berbeda dengan masyarakat Tionghoa. walaupun dalam sejarah masyarakat Suku Akit, ada literatur yang menyebutkan mereka merupakan keturunan Tionghoa.

Salah satu tradisi masyarakat Suku Akit adalah memelihara anjing. Tujuan memelihara anjing adalah sebagai penjaga rumah dari gangguan binatang atau gangguan lainnya. selain itu masyarakat Suku Akit bekerja mencari ikan sambil mencari pohon mangrove untuk arang. Pekarangan rumah dimanfaatkan untuk menanam pohon pisang, ubi kayu, manggis, pinang, dan kelapa.

Masyarakat Suku Akit tidak hanya berdiam di Desa Jangkang Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis, tetapi juga di kecamatan lain seperti di Kecamatan Rupat dan Kecamatan Rupat Utara khususnya di Desa Titi Akar. Umumnya masyarakat Desa Jangkang punya hubungan kekerabatan dgn masyarakat Desa Titi Akar.

Data profil Keluarahan Desa Jangkang tahun 2016, menyebutkan penduduk Suku Akit menduduki urutan ketiga terbanyak (Melayu 861 jiwa, Jawa 737 jiwa) dari total jumlah penduduk 2173 jiwa (583 KK). Suku Akit berjumlah 431 jiwa dengan jumlah laki laki 208 jiwa, dan perempuan 223 jiwa, totalnya 133 KK.

Sistem kepercayaan masyarakat Suku Akit

Masyarakat Suku Akit dahulunya menganut kepercayaan animisme. Agama asli masyarakat Suku Akit percaya pada berbagai makhluk halus, roh, dan berbagai kekuatan gaib dalam alam semesta, khususnya dalam lingkungan kehidupan manusia yang mempunyai pengaruh terhadap kesejahteraan hidup mereka. Sebagai contoh, pada waktu tertentu sekali masyarakat Suku Akit tidak boleh melaut maupun menghidupkan api serta mematahkan kayu di hutan, hal itu diyakini dapat menimbulkan kesialan bagi mereka. Namun seiring perkembangan zaman dan masuknya pedagang China dalam kehidupan masyarakat Suku Akit, membuat perlahan-lahan masyarakat Suku Akit meninggalkan agama nenek moyangnya yang bersifat animisme.

Masyarakat Akit umumnya beragama Budha dan harus ada patung Budha di depan rumah atau di ruang tamu atau di ruang tengah. tanda yang lain adalah digantungkannya kain merah di atas pintu depan atau lampion yang terbuat dari kertas atau balon berwarna merah.

Penduduk Suku Akit mayoritas menganut agama Budha, sebagian kecil adalah Kristen dan Islam, masuknya agama Kristen dan Islam terjadi karena pernikahan. seiring kemajuan zaman, Suku Akit dibantu oleh pemuka agama Budha yang ada di kota bengkalis. [bersambung ke tulisan 2]

[Tulisan ini disadur dari Buku Referensi, Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Oleh : Prof. Dr. Zulfan Saam. Pekanbaru, September 2018.]

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *