Kehidupan Masyarakat Adat Suku Akit dan Kearifan Lokal [tulisan 2]

Posted By admin on Feb 12, 2021


[Sebuah luaran penelitian suku asli di Desa Jangkang Kabupaten Bengkalis] Tulisan 2 – Struktur masyarakat Suku Akit berbeda dengan struktur masyarakat suku asli lainnya misalnya Suku Sakai. Dalam masyarakat Suku Akit ada pimpinan yang disebut Batin. salah satu peran Batin adalah menikahkan masyarakat Akit yang akan melangsungkan pernikahan. tugas Batin yang lain adalah menyeesaikan konflik yang terjadi antara anggota masyarakat misalnya, konflik antar keluarga dan perselisihan batas tanah. Peran tersebut akhir akhir ini tidak lagi diselesaikan oleh Batin melainkan dapat diselesaikan oleh ketua RT/RW. Memudarnya peran Batin dalam menyelesaikan persoalan keluarga, kemungkinan karena semakin menguatnya kelembagaan pemerintah desa seperti RT/RW sehingga peran Batin tidak lagi menangani masalah-masalah dalam masyarakat.

Suku Akit pada zaman dahulu hidup di pinggir anak sungai dan sangat tergantung pada hasil sumber daya alam, salah satunya pemanfaatan hutan bakau menjadi kayu arang. namun seiring kemajuan zaman, Suku Akit mulai meninggalkan pinggir sungai dengan sumber mata pencaharian yang telah berkembang seperti bertani, buruh, dan berdagang. hanya beberapa keluarga yang masih bertahan sebagai pekerja panglong arang. Meskipun terjadi perkembangan sosial ekonomi, namun mereka tetap hidup berkelompok dan terpisah dari penduduk Desa Jangkang lainnya. Hal ini dapat dilihat melalui wilayah tinggal, adat istiadat, budaya, dan agama Suku Akit yang tidak sama dengan penduduk Desa Jangkang lainnya.

Untuk menopang kehidupan sehari-hari, warga Suku Akit hanya menghandalkan dari hasil hutan dan sebagian mereka bekerja di pabrik tradisional pengolahaan sagu dan Arang. [Sumber foto : riaumandiridotco]

Aspek sosial ekonomi

Sosial ekonomi ini masih rendah dari etnis lainnya sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Dusun suku asli terdiri dari dua kelompok yaitu suku asli lama dan suku asli baru. kehidupan suku asli lama dengan suku asli baru memiliki perbedaan dalam keigatan ekonomi yaitu suku asli baru tidak ada lagi yang bekerja sebagai panglong.

Pekerjaan masyarakat Suku Akit di Desa Jangkang secara keseluruhan bergantung pada hasil mencari kayu bakau dan sesekali pada hasil nelayan dengan menjaring udang dan ikan sesuai dengan kodisi musim. Hasil yang mereka dapat kemudian dibagi dua jika orang tersebut bekerja dengan orang lain. Tempat dan kegiatan masyarakat Suku Akit melakukan aktivitas mengolah kayu bakau menjadi arang biasa diadakan di dapur orang yang ada di belakang rumah masyarakat dan di tepi sungai yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat Suku Akit lainnya yang bergantung pada hasil nelayan.

Pendapatan dari panglong arang rata-rata paling tinggi Rp.2.800.000 sekali panen, sangat tergantung dari harga kayu arang perkilo pada saat itu, terkadang harga turun dan naik.

Pada lingkungan dusun, masyarakat Suku Akit terdapat 4 warung kecil dan dan diluar dusun terdapt 15 warung masyarakat Melayu. Tempat belanja keperluan sehari-hari di perkampungan Suku Akit disebut dengan kedai atau warung. Kedai di perkampungan Suku Akit yang dijual berupa roti kering, rokok, kopi, gula, dan mi instan. Warung yang terdapat di pemukiman Suku Melayu jauh berbeda, warung yang terletak di daerah Suku Melayu Desa Jangkang tergolong maju, sedangkan Suku Akit sangat sederhana yang terbuat dari papan dan lantai semen. Kondisi warung Suku Melayu lebih baik yang terbuat dari beton dan di warung Suku Melayu lebih lengkap seperti beras, minyak goreng, minyak tanah, peralatan mandi, peralatan dapur (seperti kompor), sapu, dan sembako pada umumnya bahkan juga menjual gas elpiji. Mereka membuka warung umumnya mulai pukul 10 pagi setelah pulang bekerja.

Aspek Pendidikan

Suku Akit di Desa Jangkang umumnya perkampungan berada berdekatan dengan sungai, mayoritas perkampungan Suku Akit terpisah dengan penduduk lokal, penduduk lokal (Melayu) umumnya berada di luar/tepi jalan raya. Ada juga beberapa Suku Akit hidup/berdomisili bergabung dengan Suku Melayu/perkampungan Melayu atau suku lainnya dan biasanya karena ada faktor perkawinan campur.

Anak-anak Suku Akit memang sejak awal memiliki minat yang kurang dalam bersekolah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor lingkungan dan faktor ekonomi. [sumber foto : kumparan.com]

Status kepemilikan tanah Suku Akit ada yang sudah bersertifikat dan ada yang tidak, dahulu orang Akit tidak tinggal di rumah akan tetapi tinggal di perahu-perahu yang digunakan untuk mencari ikan. Setelah tahun 1990-an, Suku Akit sudah mulai maju dan terbuka dengan dunia luar, ditandai dengan adanya rumah yang berdiri di atas tanah yang dijadikan perkampungan oleh mereka.

Suku Akit juga sudah mulai mengenyam pendidikan, namun sangat sedikit yang tamat SD, masih di bawah angka 15%. Tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah disebabkan beberapa faktor antara lain :

1. Kesadaran keluarga dan lingkungan akan pentingnya pendidikan masih sangat minim;
2. Anak dimanfaatkan untuk dijadikan sumber tenaga kerja penghasil ekonomi keluarga;
3. Setiap hari Jumat anak di sekolah diwajibkan seragam pakaian muslim/baju Melayu. anak Suku Akit sering diejek oleh anak Suku Melayu ketika mengenakan pakaian muslim, sehingga mereka merasa malu untuk sekolah dan menyebabkan mereka berhenti sekolah;
4. Banyak di antara anak Suku Akit yg menyelesaikan pendidikan SD tidak melanjutkan pendidikan, hal tersebut ditandai dengan tidak diambilnya ijazah/STTB.

Jumlah anak Suku Akit usia 7-15 tahun yang bersekolah pada jangka waktu 5 tahun terakhir, diperkuat dengan hasil wawancara dengan 10 subjek penelitian yaitu masyarakat/orangtua anak-anak suku akit.

Faktor lain yang menyebabkan anak Suku Akit rendah kualitas pendidikannya, menurut hasil wawancara adalah, faktor ekonomi, kepercayaan diri anak kurang, dan kurang perhatian pemerintah. Dalam 5 tahun terakhir yng tamat semakin berkurang, ini membuktikan perkembangan tingkat pendidikan masyarakat Suku Akit di Desa Jangkang menurun dalam menyelesaikan sekolah.

Terjadi hambatan dalam menempuh pendidikan karena faktor di atas, menyebabkan anak-anak Suku Akit putus sekolah dan ada yang tinggal kelas.

Sistem Perkawinan

Umumnya seorang anak gadis Suku Akit sudah dapat dinikahkan jika berusia di atas 15 tahun. Namun seiring perkembangan jaman, telah banyak pergeseran soal tata cara perkawinan Suku Akit. Hal itu karena banyak anak-anak Suku Akit menikah dengan keturunan Tionghoa lalu memeluk agama Budha dan menikah di vihara. begitu juga dengan agama Kristen dan Islam dan agama lainnya. Maka tidak ada lagi proses tata cara perkawinan Suku Akit yang harus diselenggarakan karena mereka menikah menurut ajaran agama masing-masing. Hal ini tidak bertentangan dengan adat selagi mereka mau menjalankan bahtera rumah tangga dengan baik.

jika salah satu masyarakat Suku Akit menikah, maka Batin yang berperan besar dalam prosesi tersebut. Biasanya pernikahan masyarakat Suku Akit dilakukan selama tiga hari sesuai dengan kemampuan ekonomi. Batin akan menikahkan pasangan suami istri di saat pesta sedang berlangsung dan dihadiri oleh tamu undangan. Meskipun masyarakat Akit beragama Budha, tetapi pernikahan mereka adalah melalui Batin.

Sistem pengobatan, kelahiran, dan kematian masyarakat Suku Akit

Masyarakat Suku Akit dikenal dengan pengobatannya yang manjur, yang dikenal dengan ‘bedekeh.’ Bedekeh adalah cara pengobatan dengan menggunakan bomo atau dukun kampung. Prosesi menghilangkan penyakit dilakukan dengan cara menggunakan ‘ancak.’ Ancak adalah sejenis sampan layar yang terbuat dari sagu. penyakit tersebut kemudian dipindahkan dari tubuh ke ancak. penyakit yang telah dipindahkan lalu dihanyutkan ke sungai dan binatang yang dibuang di daratan dalam kondisi hidup.

Jika salah satu masyarakat Suku Akit ada yang melahirkan, maka bomo atau dukun kampung sangat berperan besar dalam proses kelahiran. Kehadiran bomo tersebut di samping membantu proses kelahiran, juga untuk membuang roh-roh jahat yang datang menghampiri sang bayi. jika sang ibu sudah melahirkan, maka ibu tersebut dipindahkan ke rumah tetangganya atau rumah sanak saudaranya apabila di rumah tersebut tidak ada yang membantu mengurusi ibu tersebut.

Masyarakat Suku Akit jarang sekali dibawa ke rumah sakit bahkan hampir tidak pernah karena mereka lebih percaya dengan bomo dari pada dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Alasan lain adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pergi ke dokter sedangkan perekonomian masyarakat Suku Akit tergolong kurang mampu.

Jika masyarakat Suku Akit ada yang meninggal, maka jasad dari salah satu anggota keluarga tersebut diinapkan di rumah selama tiga hari paling lama sesuai dengan persetujuan anggota keluarga. Selama mayat diinapkan, keluarga melaksanakan suatu acara yang bertujuan untuk menghibur anggota keluarga dan mendoakan sang mayat. Setelah genap tiga atau tujuh hari, mayat kemudian dibawa menuju ke pemakaman dengan berpakaian lengkap. Pakaian yang dikenakan sang mayat adalah pakaian yang paling ia sukai selama hidupnya misalnya pakaian waktu pernikahannya. [berikut tautan tulisan 1]

[Tulisan ini disadur dari Buku Referensi, Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Oleh : Prof. Dr. Zulfan Saam. Pekanbaru, September 2018.]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *