HHBK Sumber Ekonomi Penting Masyarakat Sekitar HTI [Bagian 2]

Posted By admin on Apr 20, 2020


[Bagian II – habis] Saat ini petani melakukan aktivitas secara swadaya dan dengan adanya kerjasama ini sudah jelas petani diuntungkan karena otomatis mereka mendapatkan lahan garapan. Janji dari perusahaan apabila demplot ini berlangsung baik, mereka siap untuk menggelontorkan dana CSR, namun mereka ingin melihat bukti dahulu.

“Karena ini secara otomatis akan memangkas birokrasi kejadian yang berlalu selama ini di perusahaan. Ketika masyarakat diberikan CSR jarang betul berkembang dan ada juga berkembang tetapi tidak banyak. Ini terobosan baru perusahaan merelakan tanahnya ditumpangi dan petani akan swadaya swasembada. Contohnya petani menggarap di lahan Kartama (Maproyan Damai) itu pemilik tanah tidak membantu apapun, petani dengan biaya sendiri dan ternyata jadi hingga bisa mengisi pangan untuk wilayah Pekanbaru,” demikan ujar Joko Surahmad.

Sejauh ini, hasil yang diperoleh dari tanaman yg ditanam oleh petani hasil panen serendah-rendahnya 4 ton dalam satu hektar untuk komoditi jagung, dan jika diuangkan dengan luas lahan 25 Ha itu lebih kurang 500 juta kotornya.

“Hitungannya begini, 4 ton/ha 5000/kg dan ada 20 juta perhektar pertiga bulan kali 25 dan duitnya 500 juta, dan jika mengacu dengan aggaran biaya saja, bersihnya lebih kurang 300 hingga 350 juta pasti dapat karena biaya RAB untuk penanaman jagung itu mengeluarkan biaya 6 juta perhektar dengan sistem olah tanah, pupuk, dan sebagainya. Untuk mendapatkan bantuan untuk penanaman ini kita cari bantuan-bantuan dari atau pemerintah yang tidak mengikat,” terang Joko.

Hasil panen jagung, kata Joko, akan dijual ke perusahaan pakan ayam seperti PT. Pokphand, PT. Java dan ke wilayah Payakumbuh dengan sistem kontrak. Sementara sebagian hasil panen yang kelas 2 biasanya akan dijadikan jagung pipil dan beras jagung. Bibit tanaman jagung biasanya dibantu oleh Dinas Pertanian. Program bantuan bibit itu sebetulnya sudah lama namun petani tidak tahu, tapi dengan adanya penyuluh hadir di tengah-tengah petani, program itu akhirnya sampai ke petani. Bibit bantuan dari pemerintah ternyata bukan jagung saja, banyak bibit lainnya yang dapat diperoleh dengan cuma-cuma dan hanya mengeluarkan biaya penjemputan/transportasi saja dan biaya penyimpanan/gudang.

“Tanaman yang kita tanam tetap diberikan pupuk seperti pupuk kandang, minimalnya 1 ton per hektar dan berarti pupuk kandang yang disiapkan adalah sebanyak 25 ton. Saat ini yang digunakan hanya pupuk kandang saja dan pupuk buanovostaz (kotoran kelelawar), tapi untuk di awal saja. Kemudian dibantu dengan pupuk TSP dan KCl, dan dalam satu hektar lebih kurang 200 kg perhektar untuk pupuk dasar saja. Selain itu, petani menggunakan pupuk daun yang berbahan organik. Untuk itulah petani berlatih bagaimana cara membuat pupuk cair, pupuk padat, pupuk organik, dan pestisida organik, sebagaimana yang dipaparkan pada acara beberapa bulan lalu. Pengganti untuk mengurangi keasaman tanah, petani menggunakan F-1 Embio,” ungkap Joko.

Pupuk seperti TSP dan KCl yang dibeli adalah pupuk yang bersubsidi karena harganya terjangkau kecuali pupuk yang tidak berbaur dengan kimia bisa dibuat sendiri oleh petani, dan pupuk dibeli secara swadaya petani. Untuk membeli pupuk, petani biasanya membeli langsung dengan distributor dan bisa bekerjasama dengan koperasi yang sudah ada (koperasi sawit).

“Karena awalnya anggota kelompok ini adalah petani palawija, tapi pada dasarnya mereka adalah kelompok tani sawit, dan dalam hal ini kita berkolaborasi juga agar ada solusi pasca menghadapi replanting ini nanti,” katanya.

Tidak Bergantung Kepada Tauke

Saat ini petani tidak masuk dalam sistem ijon dan jika ada tauke menawar pun petani tidak akan mau. Petani inginnya langsung ke perusahaan. Selain itu kelompok tani SEBAR mengasuransikan tanaman mereka di Jasindo untuk mengantisipasi apabila kekeringan, kebanjiran, hama, bencana alam, maupun kebakaran. Demikian ujar Joko.

“Jika ada tauke, kebanyakan dari orang luar dan ada dari penduduk setempat itupun tidak banyak dan tidak kita beri masuk atau peluang untuk tauke. Untuk menjaga itu, kita akan dorong petani bekerjasama dengan Bumdes,” terangnya.

Selama ini program tanaman kehidupan (HHBK, tanaman pangan) adalah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan umumnya petani tidak mengetahui, tetapi lambat laun dengan adanya kelompok tani, mereka diberikan edukasi atau pemahaman karena selama ini kehadiran penyuluh tidak ada. Dengan luas wilayah dan jumlah tenaga kerja yang ada DLHK itu memang tidak mumpuni, sehingga dianjurkan datang ke PKSM.

Tumpangsari Padi Gogo dengan Kedelai (Turiman Pagole). Bila tanaman kedelai dikembangkan pada areal padi gogo dalam pola tumpangsari, maka akan diperoleh tambahan luas tanam cukup signifikan. Oleh karena itu perlu diketahui teknik penanaman yang optimal untuk kedua komoditas tersebut dalam pola tumpangsari. Sumber : balitkabi.litbang.pertanian.go.id

Tanaman pangan sendiri sudah pasti bisa meningkatkan pendapatan keluarga, dan akan menguntungkan jika serius dikelola, namun jika tidak bisa meningkatkan pendapatan itu artinya petani yang tidak serius. Meskipun hasil pangan cukup ataupun kurang, anak-anak harus tetap sekolah. Cuma masih ada orangtua yang tidak mau mendidik anak untuk lanjut ke jenjang pendidikan. Bahkan di kelompok ini pun akan ada dana pendidikan untuk petani yang tidak mampu dengan cara melakukan iuran wajib dan iuran pokok.

Dalam mengelola tanaman, menurut Joko, anggota keluarga seperti istri dan anak-anak akan ikut serta dalam penanaman suapaya dia cinta dengan tanaman itu sendiri. Sama seperti di kebun sawit, semua anggota keluarga ikut serta dalam hal panen dan tentu ini juga bisa ditularkan pada tanaman pangan, yang sama-sama bisa menikmati hasil juga.

Tanaman yang mengakomodasi kepentingan masyarakat secara umum dikenal sebagai tanaman Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM)/ tumpangsari/ serbaguna. Tanaman PHBM sangat beragam jenisnya mulai dari tanaman penghasil karbohidrat dan protein, seperti: padi, jagung, kedelai, porang dan kacang tanah, tanaman penghasil buah-buahan dan biji-bijian, seperti: nangka, mangga, alpukat, manggis, melinjo, petai dan jengkol sampai tanaman industri, seperti: kopi dan vanili.

“Di antara jenis tanaman di atas, saya di kemudian hari ingin menanam kopi dan pisang kapok. Hasil panen pisang kapok dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan limbah dari hasil panennya bisa untuk perbaikan tanah. Karena lahan yang kita gunakan itu adalah lahan perusahaan dan perusahaan sendiri memiliki rotasi panen selama 5 hingga 6 tahun, makanya kita tanam tanaman yang sifatnya tidak lama,” ungkap Joko.

Dalam Permenhut 36/2008 disebutkan bahwa jenis tanaman HHBK yang dapat diusahakan antara lain adalah gaharu, kemiri, kayu putih,rotan, bambu, gondorukem dan sagu. Dari jenis tanaman dimaksud, menurut Joko bagus ditanam di daerah yang ada aliran sungainya. Contohnya tanaman aren, bambu, dan gaharu. Sehingga secara ekologi akan berdampak baik untuk alam dan secara ekonomi menguntungkan.

Joko juga menjelaskan bahwa kendala terbesar di petani adalah permodalan. Contoh saat ini, perusahaan bisa saja mengeluarkan CSR yang tepat guna, tetapi selama ini CSR perusahaan banyak ke prasarana dan infrastruktur. Ke depannya pengelolaan tanaman juga penting untuk dipikirkan.

“Harapan saya adalah petani sejahtera dan hutan lestari, selain peningkatan pendapatan masyarakat akan membaik, yaitu bagaimana petani tidak membuka lahan baru serta merambah hutan lagi. Jika sudah sejahtera mereka tidak akan berpikir untuk membuka lahan baru.Joko lagi. Selain itu mungkin ke depan tanaman lada, vanili, dan porang akan kita kembangkan,” kata Joko lagi.

Pendampingan bagi petani sangat perlu, lanjut Joko, jika tidak ada pendampingan maka petani tidak akan tahu dan tidak bisa menerobos peluang-peluang di pihak swasta, selain itu juga pendamping memberikan pemahaman kebijakan tentang regulasi yang ada.

“Untuk saat ini saya sudah mendampingi dan dengan adanya pendampingan tersebut mereka merasa termotivasi sendiri. Petani sendiri sudah merasakan manfaatnya cuma belum kontiniu, tetapi mereka sudah percaya diri dan tidak merasa sendiri,” ujarnya.

pendampingan memberikan nilai sangat positif bagi petani, karena banya memberi pemahaman dan wawasan. Cuma masih perlu beberapa perbaikan misalnya pada penguatan kelembagaan kelompok atau pengorganisasian dan keseriusan pendampingan semua pihak.

“Saat ini petani memang sangat membutuhkan alat pertanian seperti mesin pengolahan, mesin panen, dan mesin cooper untuk pembuatan pupuk organik, dan untuk saat ini petani sudah mendapatkan dukungan dari dinas kabupaten maupun dinas provinsi. Saat ini alat yang dimiliki petani belum memadai dan jauh dari memadai karena masih tradisional,” tutup Joko Surahmad [Bag.2 – Habis].

Wawancara oleh : Hasri Dinata/Editor : Mu’ammar Hamidy

HHBK Sumber Ekonomi Penting Masyarakat Sekitar HTI [Bagian 1]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *