Tata Cara Nikah Kawin Suku Asli Anak Rawa Kampung Adat Penyengat

Posted By admin on Jul 24, 2020


[Oleh : Nuskan Syarif] Provinsi Riau merupakan pusat kebudayaan dan tradisi melayu dan di beberapa wilayahnya masih ada sejumlah suku asli atau terasing yang dikenal dengan sebutan Komunitas Adat Terpencil (KAT). Di Riau eksistensi komunitas dimaksud dikelompokkan dalam lima (5) suku yaitu Suku Sakai, Suku Talang Mamak, Suku Akit (Suku Asli Anak Rawa), Suku Laut (Duano), dan Suku Bonai yang tersebar di beberapa kabupaten tertentu. Komunitas ini banyak yang masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang atau tradisi turun temurun seperti tradisi penghormatan kepada dewa atau kekuatan ghaib, mencari rezeki berupa berladang dan masuk ke hutan rimba atau turun ke sungai/laut, kesenian tradisional berupa seni tari dan musik, tolak bala atau musibah, memilih pemimpin atau kepala suku/adat, adat istiadat nikah kawin, dan sebagainya. Salah satu suku terasing yang masih menghidupkan tradisi adat nikah kawin hingga kini adalah suku Asli Anak Rawa.

Nuskan Syarif dari Bahtera Alam, ketika mengunjungi Kampung Adat Penyengat, berkesempatan berdiskusi dan berbincang soal tradisi adat Nikah Kawin ini dengan Datuk Alit, sebagai Ketua Kerapatan Adat Masyarakat Suku Asli Anak Rawa di Desa Penyengat Kabupaten Siak. Datuk Alit mengungkapkan bahwa tradisi adat nikah kawin di kampung mereka saat ini masih terus dijaga tradisinya oleh para keturunan suku asli.

Suku Asli Anak Rawa pertama kali bermukim di daerah bernama Sungai Lacur Darah, Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak. Saat ini, suku tersebut menempati sebuah desa/kampung adat bernama Kampung Penyengat dan hampir hampir 80% penduduknya adalah Suku Asli Anak Rawa. Desa tempat bermukim Suku Anak Rawa ini konon telah dirintis sebelum masa penjajahan Belanda. Suku Asli Anak Rawa merupakan masyarakat peradaban Melayu tua yang berasal dari cina. Sebelum mengenal agama, masyarakat Suku Asli Anak Rawa menganut paham animisme dan kini mereka dikenal sebagai penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sejarah Suku Asli Anak Rawa
Menurut sejarahnya, Kampung Penyengat diperintah oleh 10 (sepuluh) orang pemimpin. Pada tahun 1908 Kampung Penyengat dipimpin oleh Bathin Kundur yang bergelar Bathin Sembilan, dan pada tahun 1918 Bathin Kundur diganti oleh Bathin Rimbun. Pada masa kepemimpinan Bathin Rimbun ini Kampung Penyengat berkembang dengan daerah kekuasaan meliputi Kumpai hingga ke Sungai Lakar. Seiring berjalannya waktu, Kampung Penyengat kemudian dihuni oleh dua suku yaitu Suku Asli Anak Rawa dan Suku Melayu.

Adat nikah kawin di kampung Penyengat khususnya bagi Suku Asli anak Rawa, saat ini masih menjadi tradisi adat yang selalu dihidupkan meskipun ada banyak pergeseran karena kemajuan zaman. Secara catatan sipil, nikah kawin secara adat oleh Suku Asli Anak Rawa di Desa Penyengat berbeda dengan nikah kawin secara adat oleh Suku Akit di Kabupaten Bengkalis yang sudah diakui negara, sementara di Desa Penyengat belum diakui.

Ada beberapa tahap dalam proses nikah kawin di masyarakat Adat Suku Asli Anak Rawa, tahapannya adalah sebagai berikut :

Tahap Sebelum Pernikahan

Pemilihan Jodoh. Ini adalah tahapan awal di mana memilih jodoh dilakukan oleh orang tua dalam menentukan pasangan anak mereka dan anak harus patuh terhadap keputusan orang tua. Namun sekarang, memilih jodoh di kalangan Suku Asli Anak Rawa mulai luntur dan anak-anak muda lebih memilih menentukan jodoh mereka sendiri;

  1. Merisik adalah keluarga laki-laki mengutus seseorang yang sudah dekat dengan keluarga perempuan untuk bertanya-tanya perihal si gadis yang telah diketahui oleh kedua belah pihak sebagai calon pendamping si laki-laki kelak. Dalam proses merisik, orang tengah atau utusan hanya menanyakan apakah si gadis sudah ada yang punya, dan jika belum bagaimana kalau si gadis ditanya apakah dia mau dijodohkan. Jika si gadis dan keluarga setuju, maka hajat yang telah disampaikan akan diteruskan jawabannya kepada keluarga laki-laki. Utusan menyampaikan hasil dari risik kepada keluarga laki-laki, dan keluarga laki-laki selanjutnya menanyakan kapan waktu yang tepat untuk bisa meneruskan perundingan yang baik ini. Bila pihak laki-laki sudah mendapatkan jawaban soal waktu yang tepat, maka proses perjodohan akan dilanjutkan ke tahapan berikutnya;
  2. Melamar adalah datangnya utusan dari keluarga laki-laki untuk menyampaikan hajat mereka yang lebih serius lagi. Dalam acara lamaran ini pihak laki-laki datang dengan membawa tepak sirih yang berisi lengkap yaitu pinang, sirih, gambir, rokok daun satu ikat, dan sebuah kain selendang, jika ada dibawa pula sebuah cincin belah rotan;
  3. Melekat Tanda (Betunang). Dalam acara Melekat Tanda, yang dirundingkan adalah berapa lama waktu bertunang, kapan waktu acara pernikahan dilakukan, dan paling utama adalah berapa taruhannya (uang hantaran). Sebelum pihak laki-laki menuju ke rumah perempuan untuk melekat tanda, pihak laki-laki sudah menyampaikan uang taruhannya, kain selendang yang dibawa saat lamaran, sebuah cincin belah rotan, dan tepak sirih berisi lengkap serta ditambah dengan rokok nipah dan uang adat atau uang tepak. Semua itu akan diserahkan kepada pihak perempuan. Ada beberapa bentuk hantaran yang mengalami perubahan karena mengikuti zaman, yaitu rokok nipah berganti dengan rokok kretek dan beberapa bentuk barang lainnya;
  4. Mengundang (Jemputan). Mengundang adalah sebuah acara yang dilakukan oleh pihak perempuan berupa acara pesta perkawinan anak mereka yang telah ditetapkan pada acara Melekat Tanda. Sebelum hari pesta perkawinan tiba, keluarga perempuan mengadakan suatu acara yang dinamakan Menjemput atau Mengundang para tamu yang akan datang pada acara pesta anak mereka. Acara Mengundang ini tidak memakai surat undangan melainkan melalui jemputan (orang tua pengantin perempuan menjemput para undangan secara langsung);
  5. Malam Mengantong. Mengantong dimulai dengan memasang hiasan dan dekorasi, terutama di rumah pihak perempuan. Malam Mengantong dilaksanakan satu hari sebelum pesta pernikahan, biasanya tetua tetua kampung dilibatkan dalam acara malam tersebut dan acara dimeriahkan dengan acara joget adat seperti tari gendong dan joget gong. Seluruh keluarga besar berkumpul bersama-sama bersuka cita meramaikan acara;
  6. Masak-Masak. Satu hari menjelang hari H, rumah pengantin perempuan disibukkan dengan kegiatan memasak untuk menjamu para tamu yang akan hadir pada acara pesta perkawinan. Biasanya, masakan yang menjadi masakan khas setiap acara pesta adalah ikan ukuran besar-besar yang akan menjadi santapan para tamu pada acara pesta perkawinan. Jenis ikan yang biasa dimasak adalah ikan Ajah, yaitu sejenis ikan duri atau sejenis ikan belukang. Selain ikan tersebut, tidak lupa disuguhkan pula makanan khas Suku Asli Anak Rawa berupa daging babi dan daging ayam yang digulai.

 

Tahap Upacara Perkawinan

  1. Berandam merupakan Upacara yang melambangkan persiapan diri calon pengantin perempuan untuk menjadi seorang perempuan, Berandam atau berhias bagi pengantin Suku Asli Anak Rawa sangat sederhana. Pengantin tidak diandam oleh tukang andam tetapi dilakukan oleh mereka sendiri (pengantin perempuan). Dalam proses berandam, pengantin perempuan mandi seperti biasa dan memakai baju yang lebih bagus dan bersih dan tidak menggunakan aksesoris-aksesoris apapun, serta tidak menggunakan alat-alat kosmetik yang ada karena pengantin perempuan tidak keluar;
  2. Serah Terima Tepak. Rombongan pengantin laki-laki masuk ke rumah pengantin perempuan dan dilanjutkan dengan acara serah terima tepak dengan tuan rumah yaitu rombongan pengantin perempuan. Tepak yang diserahterimakan dari pengantin perempuan dibawa ke rumah pengantin laki-laki, sedangkan tepak dari pengantin laki-laki dimakan bersama-sama dengan tamu. Saat serah trima tepak dimulai pengantin perempuan tetap di belakang atau di dalam kamar menunggu acara penyembahan selesai, kemudian baru pengantin perempuan keluar sebagai tanda acara inti sudah selesai;
  3. Arahan dari Kepala Adat. Saat acara arahan dimulai, Kepala Adat duduk di depan pelaminan dan pengantin laki-laki duduk menghadap Kepala Adat, sementara pengantin perempuan masih tetap berada di dalam atau di dapur. Saat arahan, hiburan dihentikan supaya bisa mendengarkan arahan dan pengesahan dari Kepala Adat bagi kedua mempelai. Arahan Kepala Adat biasanya menyangkut perihal kedamaian di dalam berumah tangga serta nasehat-nasehat untuk kedua mempelai. Suku Asli Anak Rawa mengenal adanya mahar dalam nikah kawin, juga adanya wali akad, dan saksi. Wali biasanya terdiri dari ayah, saudara laki-laki, dan batin. Sedangkan saksi adalah semua yang hadir dalam upacara itu. Lafaz akad nikah Suku Asli Anak Rawa adalah sebagai berikut: Aku kawinkan mikek (kamu) dengan si Polan (nama perempuan) Dengan mahar sekian (jumlah mahar). Aku terima si Polan dengan mahar sekian (jawab lelaki);
  4. Sembah Menyembah. Sembah menyembah adalah acara setelah kedua mempelai dinyatakan menjadi suami istri oleh kepala adat yang disaksikan oleh para tamu. Sembah menyembah ini adalah suatu acara di mana sepasang suami istri atau pengantin baru ingin mendapatkan restu dari orang tuanya dan dari orang-orang penting seperti Kepala Adat, dan orang-orang dekat dalam keluarga para mempelai. Dalam acara tersebut, orang yang pertama disembah adalah Kepala Adat karena merupakan orang utama di dalam desa mereka, setelah itu dilanjutkan kepada orang tua pengantin perempuan dan kemudian orang tua pengantin laki-laki. Seterusnya baru dilanjutkan penyembahan kepada para keluarga yang tertua, tetapi tidak semua. Kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang yang disembah adalah : Semoga kalian bahagia selamanya;
  5. Makan Sirih Bersama. Selesai acara sembah menyembah, acara selanjutnya adalah makan sirih bersama tamu-tamu penting seperti Kepala Adat, Ketua RT, Ketua RW, dan pemuka-pemuka adat lainnya. Sirih yang dimakan adalah sirih yang dibawa oleh para pihak sewaktu berarak menuju ke rumah pengantin. Makan sirih dilakukan demi menghormati para tamu-tamu besar dan makan sirih ini selalu dilakukan setiap acara perkawinan Suku Asli Anak Rawa;
  6. Makan Besar. Makan Besar merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Suku Asli Anak Rawa saat pernikahan untuk memberitahu dan menghormati nenek moyang mereka. Acara Makan Besar dilakukan dengan cara membuat nasi besar yang dihiasi dengan hasil tangkapan mereka seperti ikan, ayam, dan babi. Sebelum dimakan, nasi besar ini dikelilingi dengan cara menari-nari. Makan besar ini dilakukan untuk memberikan penghormatan kepada nenek moyang mereka;
  7. Makan Hidangan Pesta. Makan Hidangan Pesta disebut pula dengan berhidang, dan hidangan belum bisa dihidang sebelum ada arahan dari Kepala Adat. Setelah Kepala Adat memberi kode atau isyarat bahwa hidangan sudah bisa dihidangkan atau dibawa ke depan para tamu, maka makanan baru bisa dihidangkan. Selama Kepala Adat belum memberi isyarat untuk mengeluarkan hidangan, maka hidangan yang ada akan tetap berada di belakang walau sampai petang sekali pun. Makan Hidangan Pesta cara menghidangkannya yaitu nasi sudah diletakkan di dalam piring masing-masing beserta satu mangkok nasi penambahnya. Hidangan dibuat sangat sederhana, ada ikan goreng, gulai ayam, dan sayur nangka. Hidangan kue berupa kue wajik atau kue apam sebagai pencuci mulut setelah makan.

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *