‘Tradisi Makan Di Pulau,’ Tradisi Unik Makan Bersama

Posted By admin on Jul 20, 2020


[Oleh : Nuskan Syarif] Tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun dari generasi terdahulu atau nenek moyang yang masih dijalankan di tengah-tengah masyarakat tertentu hingga kini. Demikian pula tradisi yang masih melekat di tengah masyarakat Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu, yaitu tradisi ‘Makan di Pulau.’

‘Tradisi Makan di Pulau’ merupakan sebuah tradisi yang memiliki ikatan kental antara manusia, sungai, dan hutan. Pada waktu tertentu, mereka menentukan tempat di sebuah pulau yang ada lubuknya untuk dijadikan lokasi makan bersama. Tradisi ini dilakukan saat air sungai mulai surut dan tradisi makan bersama ini dilakukan oleh anak-anak muda setempat beserta keluarga mereka.

Tidak ada yang mengetahui kenapa dan sejak kapan ‘Tradisi Makan di Pulau’ dilakukan, yang jelas bagi masyarakat lokal atau tempatan kegiatan ini menurut mereka sangat menyenangkan. Setiap tradisi ini dilaksanakan, pulau sebagai tempat lokasi acara akan terlihat ramai, mulai dari persiapan, kegiatan memasak, hingga acara atau tradisi makan itu sendiri.

Persiapan ‘Tradisi Makan di Pulau’ jika diikuti memiliki keunikan tersendiri. Ikan yang menjadi salah satu menu santapan dalam acara, langsung ditangkap oleh masyarakat dari alam/sungai dengan ditembak dan dijala atau dijaring, disamping nasi dan menu masakan atau sambal yang memang dipersiapkan dan dibawa dari rumah.

Menembak ikan bagi masyarakat tempatan adalah dengan menggunakan peralatan sederhana yang dibuat sendiri yaitu senapan dari kayu dan pada bagian ujungnya bermatakan bilah besi tajam. Berkacamata selam buatan tangan, mereka tanpa ragu menyelam di kedalaman sungai untuk menembak ikan.

Menangkap ikan menjadi salah satu kegiatan menarik dan wajib dilakukan dalam tradisi ini. Umumnya dilakukan oleh laki-laki seperti anak-anak muda dan terkadang diikuti pula oleh bapak-bapak. Mereka berlomba-lomba mendapatkan ikan yang banyak karena ‘Tradisi Makan di Pulau’ harus menyediakan ikan segar hasil tangkapan.

Sementara itu, para kaum perempuan seperti ibu-ibu menyiapkan bumbu dan makanan untuk dimakan bersama pada acara itu. Selain ikan segar dari sungai, daging ayam sering turut pula menjadi menu utama. Daging ayam selalunya diolah dan disajikan menggunakan bumbu lokal hasil racikan yang khas dengan cita rasa sepesial, dan menggunakan ayam kampung tempatan. Masakan itu disebut Ayam Tumih Lompok,’ berbeda dengan menu biasa diluar tradisi yang umumnya dimasak dengan digoreng, digulai, ataupun dibakar.

Ayam Tumih Lompok turut menjadi menu utama yang wajib tersaji saat tradisi ini diselenggarakan, disamping menu utama lainnya yaitu Tumis Ikan. Menu tersebut disajikan bersama nasi hangat, ulam, dan sambal berupa gilingan lado hijau, sehingga makanan olahan masyarakat tempatan ini menjadi sajian yang nikmat dan lezat saat dimakan bersama-sama.

‘Tradisi Makan di Pulau’ sudah menjadi tradisi yang rutin dilakukan. Tradisi ini kemudian ikut menghidupkan aktivitas wisata yang menyenangkan seperti menangkap ikan dan aktivitas mandi-mandi di sungai yang menarik bagi anak-anak. Aktivitas ini semakin asyik karena lokasi tempat tradisi diadakan cukup asri dan indah, sungai dengan hamparan pasir putih dihiasi bebatuan berbagai rupa, gemericik aliran sungai dan desir angin membikin nyaman, terlebih lagi diapit oleh pepohonan hutan alam yang menghijau dan sejuk dipandang.

Sungai Kampar Kiri, Sungai Muara Setingkai, dan Sungai Subayang akan terus menyumbangkan kekayaan alam yang berharga apabila selalu dijaga oleh masyarakat di sekitarnya. Selain itu tradisi masyarakat setempat yang masih dijalankan hingga sekarang semakin mengangkat nilai-nilai luhur yang bersebati dalam ikatan erat antara manusia, sungai, dan hutan. Ya, sebuah ‘Tradisi Makan di Pulau’ yang selalu melekat di dalam diri masyarakat hukum adat dan masyarakat lokal yang berada di sepanjang pesisir sungainya.

Sungai-sungai indah ini berada di kekhalifahan Batu Songgan dan Ludai, dengan aliran sungai yang jernih dan hutan yang masih terjaga berlandaskan atas kearifan lokal masyarakat setempat, yang akan selalu digenggam erat demi kelestarian yang berkelanjutan dan sebagai warisan bagi generasi mendatang di kemudian hari. [Disunting oleh : Mu’ammar Hamidy].

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *