Eksistensi Perempuan Adat di Kenegerian Batu Songgan

Posted By admin on Jul 17, 2020


[Oleh : Nuskan Syarif] Peran penting seorang perempuan adat di sebuah kenegerian sangat fundamental, jika seorang perempuan tidak berada di hadapan sebuah perhelatan makan secara adat, niscaya acara tidak akan berjalan baik. Di dalam sebuah lembaga kenegerian, perempuan berada di tingkat teratas meskipun bukan pengambil keputusan, namun bisa memberikan masukan atas persoalan yang akan diputuskan oleh pihak laki–laki adat.

Perempuan dalam masyarakat adat di Kekhalifahan Batu Songgan disebut Siompu. Dahulunya di Kenegerian Batu Songgan – sebagai pusat pemerintahan Kekhalifahan Batu Songgan – terdapat sebuah bangunan yang diperuntukkan untuk Siompu atau perempuan yang dituakan di kampung. Rumah Siompu menjadi pusat atau tempat rapat adat dan segala keputusan diambil di dalam rumah ini oleh para tetua adat yang laki-laki.

Perempuan menjadi kunci dalam masyarakat hukum adat di wilayah kenegerian ini. Peran perempuan dalam perhelatan adat dapat terlihat dalam acara penting seperti Baliak Basamo, Pelantikan Khalifah, Semah Rantau, Bukak Lubuk Larangan, dan lain sebagainya.

Sebutlah misalnya dalam perhelatan adat Semah Rantau, pihak perempuan mendominasi segala urusan dan keperluan perlehatan seperti konsumsi, peralatan, dan kebutuhan ritual Semah Rantau. Tidak itu saja, persiapan alat musik tradisional seperti Gondang Oguang dan sekaligus memainkannya dilakukan oleh pihak perempuan.

Peran perempuan dalam sebuah perhelatan adat tidak bisa dianggap sebelah mata. Jika pihak perempuan tidak disertakan dalam sebuah perhelatan adat, dapat diibaratkan seperti sebuah kapal tanpa layar dan kemudi yang akan terombang ambing di tengah lautan tanpa tujuan. Pihak perempuan melakukan banyak pekerjaan penting yang menjadi kewajibannya, meskipun dalam setiap acara adat mereka tetap dibantu oleh pihak laki-laki.

Keterlibatan perempuan jika diperhatikan sangat eksotik dalam setiap perlehatan adat yang artinya memiliki makna penting dalam masyarakat hukum adat. Banyak pekerjaan laki-laki perannya dilakoni oleh pihak perempuan, misalnya dalam mencari kayu bakar, menangkap dan menjaring ikan, serta aktivitas lainnya.

Keriuhan pihak perempuan dalam melakukan ataupun mempersiapkan perlehatan adat menjadi suasana unik tersendiri. Mulai dari belanja bahan dapur, mempersiapkan bahan masakan, hingga aktivitas memasak itu sendiri penuh dengan hiruk pikuk dan ramai, apalagi prosesi masak memasak diiringi lantunan Gondang Aguang dan tabuhan merdu calempong membikin suasana semakin semarak. Sesekali bunyi peralatan masak meningkahi bunyi lantunan suara musik Gondang Oguang.

Biasanya alat musik tradisional ini dimainkan oleh pihak perempuan yang terdiri dari 4 orang, satu orang sebagai penabuh calempong/talempong, dua orang penabuh gondang, dan satu orang penabuh oguang. Musik ini dimainkan tiada putusya, mulai selama persiapan perhelatan hingga acara utama diselenggarakan. Riuh rendah suara gelak tawa dan kelakar kaum perempuan selama aktivitas masak memasak di dapur umum suatu persiapan perhelatan adat merupakan suasana yang langka dan sangat jarang ditemukan aktivitas yang sama seperti di perkotaan.

Kenegerian Batu Songgan khususnya kenegerian-kenegerian yang ada di kekhalifahan Batu Songgan masih memegang teguh adat dan tradisi kebersamaan dan peran perempuan adat. Di setiap perhelatan adat, anak kemenakan di rantau akan pulang, dan anak perempuan yang ada di rantau akan berbaur dengan perempuan lain di kampung mengerjakan pekerjaan yang sama tanpa canggung.

Eksistensi pihak perempuan di kenegerian ini sangat nyata. Sebelum perhelatan adat dimulai, mereka sudah hadir di balai adat mempersiapkan hiasan berupa kain panjang warna-warni dengan berbagai corak. Setiap inchi dinding akan ditutup kain panjang dan hiasan-hiasan lain juga ikut dipasang di sekitar balai adat, mereka juga biasanya dibantu juga oleh pihak laki-laki, sehigga suasana persiapan perhelatan adat penuh dengan keakraban dan kekeluargaan.

Acara makan bajamba atau makan bersama tidak pernah absen dalam sebuah perlehatan adat di kekhalifahan. Secara harfiah makan bajamba mengandung makna yang sangat dalam, di mana duduk dan makan bersama ini akan memunculkan rasa kebersamaan tanpa melihat perbedaan status sosial. Mereka para datuk dan ninik mamak akan duduk bersama dengan anak kemenakan. Kaum perempuan akan duduk makan di tempat terpisah masih namun masih dalam satu ruangan, mereka makan bersama-sama penuh keakraban serta kekeluargaan, dan diselingi dengan senda gurau.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *