Sawit Tidak Lagi Dilirik, Nenas Menjadi Primadona

Posted By admin on Jul 15, 2020


[Oleh : Hasri Dinata] Ada pepatah yang mengatakan ‘’begughu ke hutan, bepedoman ke tanah’’ (hutan tanah adalah sumber pengetahuan dan penghidupan).

Apo adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-sehari bekerja mengolah kebun nenasnya demi membantu suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat matahari sudah menampakkan terik sinar yang begitu cerah, Apo akan bersiap meninggalkan kebun dan harus pulang ke rumah untuk menyiapkan dan memasak makanan bagi keluarganya.

Petang itu, sambil meneguk kopi yang dibuatnya, Apo bertutur kepada Hasri Dinata dari Bahtera Alam saat bertandang ke rumahnya. Apo bercerita bagaimana kegiatan usahanya dari berkebun sawit kemudian berubah haluan menjadi berkebun nenas.

Apo menuturkan bahwa pertama sekali timbul ide untuk menanam dan berkebun nenas adalah bermula ketika ia membeli nenas di pasar yang harganya tidak menentu. Saat membeli nenas itulah beliau berpikir kenapa tidak dicoba saja berkebun nenas agar tidak susah payah lagi membeli di pasar. Dengan niat dan keyakinan yang kuat, akhirnya Apo mengajak teman-temannya mencoba merintis dengan membeli bibit serta menanam sendiri. Awal memulai berkebun nenas banyak tantangan yang dihadapi seperti menjaga kebun agar tidak terbakar dan harus siap jika nenas gagal panen akibat kurangnya pengetahuan cara berkebun nenas yang baik.

Dengan banyaknya tantangan yang dihadapi membuat Apo dan kawan-kawan semakin matang dalam berkebun nenas, dan pada akhirnya kelompok mereka berhasil berkebun nenas dengan baik dan mendapatkan hasil panen yang bisa meningkatkan ekonomi keluarga.

Nenas yang dipanen sendiri sangat gampang dan mudah dijual karena pembeli atau toke di kampung setiap saat siap untuk membeli bahkan hampir kewalahan saat permintaan pasar cukup tinggi. Saat ini saja, sebagian masyarakat Kampung Penyengat ada sekitar 40%-nya mulai berkebun nenas. Kini Apo dan kelompoknya sudah menjual hasil panen tersebut ke penampung besar untuk dibawa ke Jakarta.

Apo dan temannya juga bercerita bahwa kebun sawit yang mereka miliki saat ini sudah tidak terawat lagi karena hasil sawit dan biaya perawatan sudah tidak sesuai dengan keuntungan yang diperoleh. Saat ini sawit bukan lagi komoditi penting bagi masyarakat Kampung Penyengat, karena masih ada komoditi lain yang dianggap menjanjikan bagi mereka yaitu nenas.

Bagi masyarakat Kampung Penyengat, berkebun nenas menjadi salah satu usaha yang cukup membantu ekonomi keluarga meskipun luas kebun masyarakat sendiri tidak menentu, ada kurang dari 1 hektar dan ada juga lebih dari itu. Secara luasan, Kampung Penyengat sendiri berada di dalam kawasan bergambut dan dikelilingi perusahaan perkebunan sawit dan HTI, kadang muncul konflik lahan dengan masyarakat, tetapi karena masyarakat kompak, konflik bisa diredam. Keberagaman suku dan agama di Kampung Penyengat tidak membuat kekompakan masyarakat Kampung Penyengat menjadi rusak karena adat istiadatlah yang membuat mereka menjadi bersatu.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *