Kadis LHK Riau Ajak Masyarakat Lestarikan Hutan Adat Imbo Putui

Posted By admin on Jul 6, 2020


Bahtera Alam, Petapahan – Penyelamatan Hutan Adat Larangan Imbo Putui merupakan upaya mulia dan sangat bermanfaat bagi keseimbangan alam. Ketika langkanya sumberdaya pada saat ini, eksistensi Hutan Adat Larangan bernama Imbo Putui ini menjadi kekuatan baru bagi generasi muda untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan alam. Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas LHK Provinsi Riau Mamun Murod saat mengunjungi Hutan Adat Larangan Imbo Putui pada Sabtu, 04/07/2020.

Dalam kunjungan kerja itu, Mamun Murod juga mengundang Kepala Dinas Pariwisata Roni Rakhmat bersama-sama melihat objek dan potensi hutan alam Imbo Putui yang berada tepat di Desa Adat Petapahan, Kabupaten Kampar.

Pada kesempatan itu, Kadishut Provinsi Riau meminta Dinas Pariwisata Provinsi Riau agar bisa memanfaatkan Hutan Larangan Imbo Putui menjadi objek wisata yang dikemas dalam bentuk Ekowisata di mana pengelolaan hutannya berbasis masyarakat yang dikelola oleh masyarakat adat.

Diketahui bahwa Hutan Larangan Adat Imbo Putui memiliki luas sekitar 251 hektar, diapit oleh Sungai Tapung Kiri dan dikelilingi oleh Sungai Petapahan. Kondisi alamnya masih terlihat lestari dan pada lokasi itu ada peninggalan makam dan balai yang sudah berusia ratusan tahun. Saat kunjungan tersebut, kedua kepala dinas berkesempatan melihat objek peninggalan bersejarah itu.

Mamun Murod yang baru saja dilantik menjadi Kepala Dinas LHK Provinsi Riau oleh Gubernur Riau memberikan apresiasi yang tinggi kepada para ninik mamak beserta semua pihak yang telah menjaga hutan Imbo Putui dan dengan menjaga hutan adat sangat selaras dengan misi Gubernur Riau untuk mewujudkan Riau Hijau.

“Hutan Adat Imbo Putui ini harus dijaga dengan baik. Saat ini tidak banyak hutan yang tersisa, dengan demikian kita akan bisa mewujudkan Riau Hijau yang dicanangkan oleh Gubernur Riau Syamsuar,” ujarnya.

Dalam kunjungan kerja yang dihadiri oleh jajaran dinas, hadir pula beberapa NGO seperti Harry Oktavian dari Perkumpulan Bahtera Alam, dan dalam kunjungan itu mereka disambut oleh pemangku adat dan Kelompok Tani Hutan Sendang Berkah Aryasatya (SEBAR), Desa Muktisari Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar.

Dalam pada itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau Roni Rakhmat menambahkan bahwa ada beberapa hal yang penting diperhatikan dalam pengelolaan ekowisata, pertama adalah jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakat, kemudian selanjutnya adalah menerapkan pola wisata ramah lingkungan, yaitu pola wisata yang ramah budaya dalam konsep adat istiadat setempat, dan tentunya bisa memberikan dampak secara langsung dalam meningkatkan ekonomi setempat.

Hutan Adat Larangan Imbo Putui cukup menarik dan eksotik, di dalamnya masih bisa ditemukan Kayu Batu atau Irvingia malayana oliv dipterocarpaceae yang tumbuh menjulang tiggi hingga mencapai ratusan meter, dan terdapat sumber mata air berada di tengah kawasan yang tiada putus mengalir meskipun kemarau.

Wilayah hutan adat ini potensi keragaman hayatinya cukup tinggi dan berbagai spesies endemik sumatera hidup di dalamnya seperti burung enggang, harimau dan beruang. Jenis pepohonan juga cukup beragam seperti kempas, kelat, kulim, meranti merah, sondu, pasak bumi, ara, dan lain sebagainya. [BA]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *