Riau Potensi Hasilkan Kopi Liberika

Posted By admin on Jun 17, 2020


Para penikmat kopi di Indonesia umumnya cuma mengenal dua jenis kopi yaitu Robusta (Coffea robusta) dan Arabika (Coffea arabica). Tetapi ada satu jenis kopi yang belum banyak dikenal dan memiliki cita rasa unik, yaitu kopi Liberika. Sebagai salah satu produsen kopi dunia, Indonesia memang banyak menghasilkan jenis Robusta dan Arabika dan banyak dipasarkan, sementara kopi Liberika pemasarannya belum optimal dan harganya masih mahal, dan produksinya juga belum tinggi.

Kopi jenis Liberika dihasilkan oleh tanaman Coffea liberica. Konon kopi ini awalnya berasal dari tanaman kopi liar di daerah Liberia. Kabar lain menyebutkan kopi Liberika juga tumbuh secara liar di daerah Afrika lainnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) di Jember, Yusianto, mengatakan bahwa kopi Liberika adalah kopi yang oleh masyarakat kerap disebut dengan “kopi ngongko (nangka)” dan memiliki cita rasa unik karena memang beraroma buah nangka, Kopi ini dibawa ke Indonesia pada abad ke-19 ketika saat itu tanaman kopi Arabika banyak terserang penyakit. Kini, kopi jenis tersebut ditanam di wilayah Jambi dan Bengkulu. Tanaman kopi Liberika berbeda ukurannya dengan dua jenis kopi lainnya karena berukuran lebih besar dan bisa mencapai tinggi 9 meter. Bijinya juga lebih besar, kadang mencapai dua kali lipat ukuran biji Arabika.

Yang unik, tambah Yusianto, daun tanaman kopi ini mengandung kafein lebih banyak dari bijinya. Kopi Liberika adalah salah satu peluang Indonesia. Indonesia bisa mengembangkan jenis kopi Liberika untuk diekspor. Namun Saat ini, banyak orang yang belum mengenal jenis kopi ini.

Menurutnya, Liberika potensial karena pasar ekspornya pun ada. Di Malaysia, banyak yang mengonsumsi kopi Liberika. Dari sisi harga pun lebih baik dari Robusta. Oleh karena itu, budidaya dan pengembangan kopi Liberika perlu dilakukan.

Malaysia adalah salah satu pengkonsumsi kopi jenis liberika terbesar di dunia. Kebun kopi jenis Liberika di Malaysia mencapai 80% dari total area perkebunan kopi yang ada di sana. Pusat perkebunan kopi Liberika di Malaysia ada di daerah Selangor, Melaka, Johor, dan Sabah. Tak jarang, untuk memenuhi kebutuhan kopi Liberika, Malaysia mengimpor kopi Liberika dari Indonesia, terutama dari perkebunan kopi di Jambi. Selain Malaysia, Filipina juga termasuk pengkonsumsi kopi Liberika dengan luas perkebunan mencapai 25% dari total kebun kopi di sana. Masyarakat lokal Filipina menyebutnya sebagai Kapeng Barako (Barako Coffee), dengan sentra perkebunan terdapat di provinsi Batangas dan Cavite.

Bagaimana dengan Riau?
Riau memiliki lahan gambut terluas yaitu sekitar 3,89 juta hektar dari 6,49 juta hektar total luas lahan gambut di pulau Sumatera. Sebagian lahan gambut atau hampir separuhnya dimanfaatkan masyarakat sebagian besar untuk budidaya tanaman perkebunan, tanaman pangan, tanaman hortikultura, sayuran, dan buah. Dari 934.130 ha lahan gambut terdegradasi yang belum dimanfaatkan, sekitar 585.217 ha potensial dikembangkan untuk jenis budidaya tanaman dimaksud.

Kopi Liberika merupakan kopi khas gambut karena mampu beradaptasi dengan baik di tanah gambut, sementara kopi jenis lain (Arabica dan Robusta) tidak bisa tumbuh (Hulupi 2014).  Menurut Gusfarina (2014), kopi Liberika juga toleran terhadap serangan hama dan penyakit serta tahan terhadap iklim yang panas dan kelembaban yang tinggi. Dalam hal perawatan, kopi Liberika tidak memerlukan hortikultura intensif.

Riau memiliki lahan gambut yang tersebar di berbagai kabupaten, saat ini sudah mulai mengembangkan komoditas ini. Kopi Liberika merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Kepulauan Meranti yang ditanam di antara pohon kelapa, pinang dan karet. Pada dasarnya kopi Liberika memiliki potensi ekonomi yang tinggi sebab
produk kopi Liberika mulai disukai oleh konsumen karena cita rasanya (Ardiyani 2014). Karakter rasa kopi Liberika
tidak sepahit Robusta dan ada aroma nangka asam mirip Arabika dan coklat.

Menurut Ketua Kelompok Tani Sepakat Kabupaten Kepulauan Meranti, Nyoto, dalam satu batang pohon kopi Liberika bisa menghasilkan lebih kurang sekitar 15-20 kg buah kopi. Jika sudah mulai berbuah, dalam kondisi ideal kopi Liberika Meranti bisa dipanen 20 hari sekali.

Selanjutnya Nyoto menambahkan, di Kepulauan Meranti harga buah basah (ceri) untuk kopi berkisar Rp 2.500-
4.000 per kg. Yang cukup bervariasi yaitu harga buah beras (biji kupas), yaitu di kisaran antara Rp 30.000-
40.000 lebih tinggi daripada harga kopi Robusta. Di Malaysia harga kopi Liberika mencapai Rp 48.800-51.200
(Martono et al. 2013). Ketika sudah green bean (biji kopi hijau kering), biji kopi Liberika kualitas bagus bisa dijual
dengan harga Rp 90.000-120.000 per kg dan akan meningkat menjadi Rp 200.000 per kg ketika sudah
disangrai. Jika sudah dalam bentuk bubuk harganya meningkat lagi menjadi Rp 250.000-270.000 per kg.
Untuk kopi Liberika Luwak harganya cukup fantastis, yaitu Rp 600.000 untuk yang sudah disangrai dan Rp
1.100.000-1.300.000 per kg untuk yang sudah bubuk. Peningkatan harga kopi dalam setiap proses biji sampai
menjadi bubuk disebabkan karena adanya penyusutan berat, dari buah kopi (ceri) sampai menjadi green
bean menyusut hingga 50-60%. Dan setelah disangrai menyusut lagi sekitar 10-15%.

Jadi, selain keunggulan dari aspek harga, kopi Liberika juga memiliki hasil produksi lebih tinggi jika dibandingkan kopi Robusta karena bisa berbuah sepanjang tahun dengan panen sekali sebulan (Gusfarina 2014).

Praktik lapangan pelatihan kopi Liberika di Arena Aksi 4 kebun Bapak Atek Desa Dompas Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis (Sumber : CIFOR-CGIAR)

Praktik Lapangan Pelatihan Kopi pernah pula dilakukan di Desa Dompas Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis. Lahan praktik yang digunakan disebut dengan Arena Aksi yang merupakan lahan gambut dengan konsep agroforestri atau wanatani karet. Agroforestri merupakan lahan dengan kombinasi antara tanaman keras dengan komoditas pertanian (de Foresta et al. 2000). Adanya praktik agroforestri dapat dijadikan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan pemanasan global dan kemiskinan. Sebagian besar praktik agroforestri dilakukan di lahan kering dan banyak bagian kecil di lahan basah baik lahan gambut maupun lahan pasang surut (Waluyo dan Nurlia 2017).

Praktik Lapangan Pelatihan Kopi Liberika di Desa dompas dilakukan di Arena Aksi milik Kebun Bapak Atek. Karena tidak ada sumber bibit kopi Liberika di Desa Dompas, maka bibit didatangkan dari Kepulauan Meranti, Kabupaten Meranti dan Desa Parit II, Sungai Apit, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Bibit kopi Liberika yang didatangkan berasal dari pohon induk bersertifikat dan sudah dipatenkan oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Hukum dan HAM dengan nama “Kopi Liberika Meranti.” [Oleh : Mu’ammar Hamidy. Disadur dari berbagai sumber tulisan online] 

SUMBER :

Budidaya Kopi Liberika di Lahan Gambut
Terbitan CIFOR dan CGIAR – Research Program on Forests, Trees, and Agroforestry

sains.kompas.com
Kopi Liberika, Kopi dengan Cita Rasa Sayuran
https://sains.kompas.com/read/2013/05/20/1252552/Kopi.Liberika..Kopi.dengan.Cita.Rasa.Sayuran.

Mengenal Kopi Liberika, Kopi Langka Beraroma Nangka
https://www.kompasiana.com/primata/5a74a52ecf01b47bdf2723b2/mengenal-kopi-liberika-kopi-langka-beraroma-nangka

Mengenal Kopi Liberika dan Perbedaannya Dengan Arabika

Mengenal Kopi Liberika dan Perbedaannya Dengan Arabika

Karakteristik dan Potensi Pemanfaatan Lahan Gambut Terdegradasi di Provinsi Riau
http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jsl/article/view/6444

Sumber foto : inibaru.id

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *