Laut, Harapan Nelayan Desa Penyengat yang Mulai Sirna

Posted By admin on Apr 27, 2020


[Oleh : Mu’ammar Hamidy] Siang menjelang sore, Pak Ate kembali berada di atas sampan tuanya, sabar menunggu jaring yang dipasang sejak pagi. Sampan dia kayuh perlahan, mengitari jaring itu. Sedikit terik yang membakar kulitnya yang hitam tidak ia hiraukan. Semangat melautnya masih tinggi, meskipun hasil yang diperoleh tidak seperti ketika 40 – 50 tahun yang lalu.

Sambil menunggu jaring, pikirannya terbang ke masa lalu saat Ate selalu dibawa ayahnya menjaring ikan. Laut adalah harapan bagi masyarakat Desa Penyengat, maka pilihan menjadi nelayan merupakan bagian dari sejarah nenek moyang mereka yang disebut sebagai Suku Asli Anak Rawa atau Suku Akit. Ya, oleh Kerajaan Siak, mereka diketahui sebagai suku yang sangat menguasai perairan dan dikenal jujur.

Terbayang olehnya saat itu ketika dia dan ayahnya turun menjaring, tubuh kekar ayahnya demikian lincah dan kuat saat jaring dipasang dan ditebar. Setiap jaring diangkat, selalu mereka mendapatkan banyak ikan. Kadang tersangkut juga 6-10 ekor udang yang cukup besar dan oleh Ate kecil jika sudah di darat langsung dibakar sendiri. Kadangkala beberapa jenis ikan karena bentuknya yang unik tidak dia makan, tapi dipelihara di belakang rumah. Aktivitas melaut ini menjadi mata pencaharian utama masyarakat desa ketika itu. Melaut menjadi menyenangkan, karena bisa dilakukan setiap hari dan hasil dari melaut juga cukup memuaskan para nelayan. Hasil ikan bisa dijual dan sebagian dikonsumsi sendiri. Dari laut masyarakat desa sudah bisa hidup dengan baik di samping aktivitas mengambil hasil hutan bakau (meramu), bertani dan berkebun.

Pikiran masa lalunya tiba-tiba sirna saat sebuah kayu gelondongan menghantam perahunya, dan riak gelombang air laut perlahan membesar. Pandangannya tajam dan marah tertuju pada sebuah ponton yang melintas berjarak beberapa meter di hadapannya, penampakan yang hampir tiap hari menghantui aktivitas melaut para nelayan. Ponton yang membawa kayu milik sebuah perusahaan besar di Riau bagi mereka menjadi sumber malapetaka karena berkontribusi bagi pencemaran laut yang berada di kawasan desa mereka. Riak gelombang yang dihasilkan oleh kapal ponton besar telah menyebabkan abrasi sehingga pantai semakin mundur ke arah pemukiman masyarakat. Kayu-kayu gelondongan yang dibawa juga kadangkala terlepas dari tempatnya, hanyut dan menghantam perahu dan jaring nelayan, tidak jarang merusak habitat pohon bakau yang berada di pinggir pantai. Beberapa jejak cairan solar terlihat tercecer menutupi permukaan perairan dengan bau yang cukup menyengat.

Rasa lelah pak Ate tidak terbayar hari itu, sampan dan jaringnya ikut rusak akibat kejadian tadi, dengan sisa semangat yang ada, jaring kemudian dia angkat dan dengan gontai mengayuh perahu tuanya ke darat dengan membawa beberapa ekor ikan saja.

Apa yang dialami oleh pak Ate belum seberapa, pernah salah orang nelayan mengalami nasib naas saat melaut. Warga dari Desa Penyengat itu ikut terseret ke bawah tongkang kapal, terseret beserta perahunya. Kejadian ini membuat para nelayan menjadi was-was dan khawatir, tetapi para nelayan tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak mampu melawan kekuatan korporasi yang begitu besar dan berlindung dibalik kepentingan nasional dan investasi. Beberapa nelayan yang melaut pada malam hari kini harus ekstra hati-hati karena insiden bisa saja terjadi kapan saja saat melaut.

Bagi masyarakat Desa Penyengat, persoalan ini tentu menjadi pembicaraan sehari-hari karena menyangkut hajat hidup warga desa. Pernah dicoba untuk dilakukan dialog dengan pihak perusahaan, tetapi selalu berakhir dengan kekecewaan, minim respon, dan tidak ada solusi yang baik.

Beberapa warga mencoba cara untuk memperbaiki abrasi kawasan pantai dengan melakukan penanaman kembali hutan mangrove atau pohon bakau, namun kurang berhasil karena sisa-sisa kayu besar yang terjatuh di laut dengan mudah merusak bibit-bibit mangrove yang ditanam di sekitar kawasan itu terlebih ketika saat pasang datang.

Beberapa nelayan yang menyerah kini telah beralih profesi, ada yang bertani, berkebun, beternak, memelihara walet, buka warung, dan pekerja lepas, dan lainnya. Berkebun nenas saat ini cukup mendapat perhatian dari warga karena ada yang berhasil melakoni usaha ini dan nilai jual nenas Desa Penyengat juga cukup baik di pasaran. Menurut mereka nenas Desa Penyengat yang ditanam di lahan gambut rasanya manis dan enak serta ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan nenas yang dihasilkan di tempat lain.

Tetapi bagi Pak Ate, laut adalah sumberdaya alam yang memiliki arti sangat penting bagi kehidupan. Betapa manusia tinggal mengambil hasil perikanan yang ada di dalamnya dan sebagai sumber tiada habis-habisnya. Tapi akibat keserakahan manusia dan tidak peduli dengan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam khususnya sumberdaya laut, maka petaka akan menghampiri dan alam akan tidak lagi bersahabat dengan sehingga laut tidak lagi menjanjikan kehidupan yang lebih baik.

Pandangan Pak Ate di senja itu lurus ke depan, menatap horizon di atas ujung permukaan laut yang mulai memudar karena mentari akan segera tenggelam. Jembatan kayu tempat ia berdiri sekarang menjadi saksi bahwa dulunya menjadi tempat bersandar para nelayan selepas melaut, dengan wajah tersenyum memuat hasil tangkapan yang besar dan banyak dari perahu untuk segera dijual. Jembatan itu kini ikut membisu sebagaimana membisunya Pak Ate di senja itu. ‘Masihkah ada harapan itu ke depan?’ Gumam Pak Ate dalam hati. Ya, harapan itu mungkin masih ada, tetapi tidak ada yang tahu kapan akan tiba.

Manusia tidak hanya hidup hari ini, tapi di belakang masih ada generasi yang terus bertumbuh hingga kehidupan dunia berakhir. Mereka harus memiliki kehidupan dan laut adalah salah satu tumpuan harapan. ‘Jagalah alam, jagalah laut, jangan serakah.’ Demikian bathin Pak Ate seraya beranjak menuju pulang, ditemani semilir angin laut yang kini tidak lagi terasa hangat. ***

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *