Sungai adalah Urat Nadi Masyarakat Hukum Adat Kenegerian Batu Songgan

Posted By admin on Apr 24, 2020


[Oleh : Nuskan Syarif] Masyarakat Hukum Adat di Kekhalifahan Batu Songgan memiliki sebuah kebijakan adat tentang pengelolaan sungai. Sungai oleh Masyarakat Hukum Adat merupakan sebuah bagian dari perjalanan kehidupan, di sungai masyarakat bisa mendapatkan sumber protein, sebagai lalu lintas transportasi, juga sebagai simbol kebesaran adat disamping hutan (Ghimbo).

Di bagian aliran sungai tertentu, Masyarakat Hukum Adat memiliki zona terlarang, sebuah zona yang dikhususkan untuk ikan agar bisa berkembang biak dan dipanen pada waktu tertentu.

Setiap Kenegerian di Kekhalifahan Batu Songgan, khususnya Kenegerian Batu Songgan, sungai mereka bagi menjadi beberapa zona pemanfaatan yang diikat dengan aturan-aturan adat. Di antara zona pemanfaatan tersebut dikenal dengan nama Lubuk Larangan. Lubuk Larangan merupakan zona terlarang bagi penangkapan ikan baik menggunakan jala, jarring, maupun pancing. Selain itu, aktivitas penangkapan di sepanjang sungai seperti menuba, meracun, dan menyentrum ikan juga dilarang.

Jika aturan adat ini dilanggar oleh anak kemenakan, maka hukum adat akan dijatuhkan dari hukuman yang ringan hingga berat. Hukuman ringan salah satunya membayar denda yang disepakati oleh Tetua Adat baik berupa uang, potongan kain, atau seekor kerbau. Hukuman berat dapat berupa pengucilan atau bahkan pengusiran dari kenegerian, dan jika itu terjadi maka pengakuan sebagai anak kemenakan kenegerian akan hilang.

Selain Lubuk Larangan, terdapat wilayah sungai sebagai atau zona pemanfaatan. Zona ini diperuntukkan bagi seluruh masyarakat untuk bisa mengambil hasil sungai berupa ikan.

Di Kenegerian Batu Songgan ada tiga Lubuk Larangan. Satu lubuk berada di Desa Muaro Bio – desa definitif yang terdapat dalam wilayah adat kenegerian, dan Lubuk Larangan di desa ini dikelola oleh pemuda dan desa,

Dua lubuk lagi berada di Desa Batu Songgan yang merupakan desa tua. Satu lubuk di kelola oleh pemuda dan satu lagi dikelola oleh kenegerian/adat.

Penandaan zona Lubuk Larangan biasanya menggunakan bentangan seutas tali yang dilengkapi kain warna warni. Tali dibentangkan cukup tinggi menyeberangi aliran sungai, dari seberang menuju ke seberang lainnya. Area Lubuk Larangan tidak diberlakukan di sepanjang aliran sungai tetapi berada pada tempat-tempat aliran tertentu serta pada panjang aliran tertentu, dengan mempertimbangkan kelayakan sehingga pantas ditetapkan sebagai area Lubuk Larangan.

Selain Lubuk Larangan, wilayah sungai yang ditandai sebagai zona pemanfaatan boleh diambil hasilnya tanpa ada aturan waktu. Masyarakat bebas menangkap dan mengambil ikan sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kapan saja. Sungai Subayang yang melintasi Kenegerian Batu Songgan kaya akan jenis ikan. Alat tangkap yang digunakan masyarakat juga masih tradisional, yaitu berupa pancing, jala, jaring, dan alat tembak tradisional.

Seluruh masyarakat sangat mematuhi aturan adat yang disematkan pada Lubuk Larangan, secara turun temurun aturan ini dipegang teguh oleh masyarakat dan anak kemenakan, karena mereka meyakini apabila aturan adat ini dilanggar akan berakibat jatuh sakit dan lain sebagainya. Pada waktu tertentu, Lubuk Larangan akan dibuka dan prosesi membuka lubuk hingga menangkap ikannya menjadi budaya lokal yang unik dan terus dipertahankan oleh warga masyarakat. Acara membuka Lubuk Larangan biasanya akan dihadiri pula oleh anak kemenakan di perantauan, pulang ke kampung halaman barbaur bersama keluarga dan masyarakat.

wilayah sungai yang ditandai sebagai zona pemanfaatan, pada musim atau bulan tertentu ketika air pasang atau musim hujan, ikan-ikan sungai melakukan maompeh (menghempaskan badan ke atas permukaan sebagai tanda musim bertelur). Saat itu, ikan-ikan akan bergerombol dalam jumlah banyak sehingga masyarakat akan berbondong-bondong turun ke sungai untuk menangkap ikan. Hasil tangkapan biasanya oleh masyarakat akan diolah menjadi ikan asin, ikan kering, atau disalai.

Aktivitas masyarakat di sekitar sungai pada zona pemanfaatan, apabila air surut dan jernih, banyak yang menangkap ikan dengan cara menembak. Biasa dilakukan oleh anak-anak muda dan orang tua berumur dibawah 50 tahun. Waktunya kadang di siang hari bahkan ada yang malam hari. Aktivitas ini biasanya berkelompok, anak-anak muda ini menyisir bersama-sama aliran sungai untuk menembak ikan. Satu kelompok bisa terdiri dari 4 hingga 6 orang. Hasil yang diperoleh memang tidak sebanyak ketika musim ikan maompeh, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan harian saja,

Melihat anak-anak muda ini menyelam sambil menangkap ikan cukup menjadi sebuah tontonan menarik. Kadangkala mereka naik ke atas perahu sekedar untuk istirahat sambil merokok dan makan makanan ringan. Sambil itu, cekatan tangan mereka mengangkat dan melepas ikan-ikan yang terajut di seutas tali (Otuegh) yang ujungnya terdapat kawat runcing keatas perahu. Jenis ikan yang ditangkap berbagai rupa seperti dari jenis paweh, baung, motan, udang, dan lain-lain.

Selain manfaat ikan, Sungai Subayang kaya akan batu-batu sungai yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk bahan membuat bangunan. Pada sekitar tahun 1990-an, masyarakat biasa bergotong-royong membangun rumah. Bahan bangunan seperti krikil, batu kali, pasir, dan kayu diangkat bersama-sama. Anak-kemenakan, anggota keluarga, dan handa tolan ikut bersama-sama membangun rumah. Tetapi saat ini, semangat gotong-royong itu sudah tidak seperti dulu lagi, bahkan sudah hampir hilang.

Sungai bagi masyarakat Kekhalifahan Batu adalah sarana transportasi penting dan utama. Berbagai keperluan dan hasil sumberdaya alam dibawa dan diangkut hilir ke hulu dan sebaliknya menggunakan perahu. Sumber bahan pokok umumnya diangkut dari Desa Gema, Ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Dengan transportasi sungai, warga masyarakat di delapan (8) desa di hulu Sungai Subayang bisa saling terhubung dan berinteraksi. *

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *