Raja Hutan itu Digelari Datuak

Posted By admin on Jun 21, 2019


[Oleh : Nuskan Syarif] Kenegerian Batu Songgan adalah salah satu dari enam kenegerian di Kekhalifahan Batu Songgan dan dikenal sebagai kenegerian tertua yang menjadi pusat kekhalifahan sejak ratusan tahun yang lalu. Di bawah payung Kerajaan Gunung Sahilan, Kenegerian Batu Songgan masih memegang teguh kerapatan adat, tata guna lahan, dan adat kemanusiaan,

Adat berhubungan erat dengan alam, salah satunya yang menarik adalah penghormatan terhadap satwa liar bernama harimau. Harimau salah satu satwa liar yang dihormati oleh masyarakat Kekhalifahan Batu Songgan dan ditampuk dengan gelar ‘Datuak.’

Di dalam tatanan adat di seluruh kerapatan adat Kekhalifahan Batu Songgan harimau menjadi simbol penting dan masing-masing kenegerian memiliki ‘Datuaknya’ sendiri-sendiri. ‘Datuak’ dianggap memiliki andil dalam menjaga ketenteraman tiap kenegerian, ia dipercaya oleh masyarakat sebagai sosok yang kerap muncul di saat ada warga kampung melakukan hal yang buruk atau melanggar adat, apakah itu perbuatan yang dilakukan antara sesama warga atau terhadap alam.

Di Kampar Kiri secara keseluruhan, apabila ‘Datuak sudah mulai terlihat warga melintas di sekitar pinggir hutan atau turun kampung, apalagi telah menelan korban jiwa, maka situasi kampung akan berada pada ‘musim longang,’ yaitu musim di mana seluruh masyarakat di kampung tersebut menghentikan kegiatan atau aktivitas berkebun di hutan seperti memotong karet dan kegiatan mencari nafkah lainnya hingga keadaan benar-benar aman. ‘Musim longang’ dipicu oleh perasaan cemas dan was-was karena takut bertemu dengan ‘Datuak.’

Eksistensi harimau sekarang berstatus kritis. Saat ini, hanya tersisa 3.900 individu harimau liar di dunia, [foto : wwf-Indonesia]

Harimau atau ‘Datuak’ bagi masyarakat di Kampar kiri adalah sosok yang sangat dihormati, sehingga dalam keseharian, masyarakat salalu menjaga hubungan baik terhadap sang Datuak. Menurut sesepuh kenegerian, setiap kenegerian atau kampong memiliki ‘Datuak’ sendiri – sendiri, dan mereka antara satu dengan lainnya terhubung, konon pada masa-masa tertentu para ‘Datuak’ bertemu di suatu tempat.

Jika dilihat dari sisi konservasi, masyarakat adat punya landasan kearifan lokal untuk memelihara alam dan berinteraksi dengannya. Meninggikan posisi raja hutan dengan menyematkan gelar ‘Datuak,’ menandakan masyarakat adat peduli akan kelestarian alam dan yang bersebati dengannya.

Saat ini tatanan itu masih dipatuhi oleh masyarakat kenegerian yang berada di Kekhalifahan Batu Songgan. Tatanan ini juga dilakukan dalam pengelolaan hutan dengan cara menjaga kelestariannya karena bagi masyarakat adat eksistensi hutan sangat vital dan sakral. Hutan merupakan tempat menggantungkan hidup dan benteng terakhir untuk sumber air, tempat mencari nafkah, dan sumber penting lainnya bagi kehidupan. Pentingnya eksistensi hutan oleh masyarakat adat, hutan diberi nama sebagai wujud interaksi manusia dan alam khususnya hutan yang tiada terputus.. Masyarakat adat di Kekhalifahan Batu Songgan menamakan hutan mereka dengan Imbo Ghano (hutan inti), artinya adalah hutan larangan adat yang diperuntukan bagi kelestarian satwa liar. [editor : Mu’ammar Hamidy]

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *