Pompang Pighau dan ukiran Eksotis di Haluan Perahu

Posted By admin on Jun 18, 2019


[Oleh : Nuskan Syarif] Sungai Subayang menyimpan banyak cerita, karena terdapat bentangan 10 desa di sepanjang alirannya dan membelah 70.000 hektar kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Airnya sejuk dan jernih, diapit perbukitan menghijau pekat yang asri dan penuh misteri. Jika menelusuri Sungai Subayang, suasana seakan dibawa ke ruang waktu ratusan tahun yang lalu, bebas dari hiruk pikuk perkotaan dan deru teknologi.

Di antara bentangan desa, ada sebuah desa bernama Batu Songgan, desa dengan potensi ekowisata alam yang mulai menggeliat. Desa yang dikelilingi kawasan Bukit Rimbang Baling, memiliki prosesi budaya panen ikan di lubuk larangan, berburu ikan, air terjun 6 tingkat, aktivitas wisata river tubing Sungai Subayang, rumah pohon, dan wisata Batu Belah yang konon batu ini dibelah oleh Gak Jao, orang bagak (berani) dari tanah Jao (Jawa).

Desa Batu Songgan bisa menjadi pilihan bagi wisatawan untuk melepas lelah, menjauhkan diri dari kesibukan pekerjaan dan kebisingan kota. Di sudut desa dekat aliran sungai ada tepian bernama Tutu (kampung tua) di mana sebuah homestay berdiri yang dikelola kelompok pemuda dari masyarakat desa. Kegiatan pengelolaan ekowisata mereka namakan Pokja Ekowisata Batu Bolah.

Tepian aliran sungai dan gemericik arus air di kampung tua menjadi saksi pijakan awal setiap wisatawan mendaki tebing bertangga menuju homestay sederhana yang terbuat dari kayu dan atap seng. Tepian aliran itu menjadi bersandar perahu bermotor yang mengantarkan para wisatawan.

Perahu motor yang hilir mudik membelah aliran Subayang dikenal dengan pighau atau masyarakat biasa menyebutnya robin atau johnson. Robin atau johnson adalah merek mesin yang dipasang di buritan pighau. Johnson umum mengangkut penumpang atau barang lebih banyak dari robin karena ukurannya memang lebih lebar dan panjang.

Pighau, pagi sebelum mentari mengintip, sudah beredar dari hulu ke hilir dan sebaliknya setiap hari tiada henti. Biasanya petani karet di awal pagi sudah menuju ke kebun karet milik mereka menggunakan pighau ini, seakan pighau selalu setia mengikuti gerak kehidupan masyarakat desa.

Pagi sekali, masyarakat Desa Batu Songgan sudah mulai beraktivitas di sekitar Sungai Subayang [foto : nuskan – bahtera alam]

Berbicara tentang perahu atau pighau, maka di Kampar Kiri Hulu terkenal dengan pengrajin pighau dan setiap kenegerian atau desa memiliki pengrajin pighau. Corak dan bentuk pighau selalu hampir sama, namun ada beberapa corak dan ciri khas yang membedakan setiap kenegerian, bahkan membedakan tiap pengrajin pighau.

Di Desa Batu Songgan ada sekitar 4-6 orang pengrajin. Para pengrajin selalu menggunakan bahan kayu dari jenis Medang untuk membuat pighau. Jenis Medang menjadi pilihan karena ringan, mudah dibentuk, dan tahan lama. Hampir semua pengrajin pighau di Kampar Kiri Hulu menggunakan bahan baku kayu jenis Medang ini.

Menariknya, ada bagian pada pighau yang perlu untuk diungkap. Pompang pighau atau kepala perahu merupakan sebuah bagian yang memiliki ornamen unik untuk hiasan. Ornamen unik ini sebagai seni dekoratif yang muncul pada setiap pighau menjadi identitas seni kenegerian khususnya di Desa Batu Songgan, beda kenegerian beda pula seni dekoratifnya.

Pompang pighau atau kepala perahu merupakan sebuah bagian yang memiliki ornamen unik untuk hiasan. Ornamen unik ini sebagai seni dekoratif yang muncul pada setiap pighau menjadi identitas seni tiap kenegerian [foto : nuskan-bahtera alam]

Lekuk ukiran, bentuk pahatan, serta goresan pisau yang tajam, mempertegas bukti kekayaan budaya lokal. Sekilas motif ukiran tidak berbeda dengan motif ukiran pada umumnya, namun jika diperhatikan lebih seksama, motifnya menyiratkan sejumlah pesan yang ingin disampaikan.

Setiap bentuk ukiran di pompang pighau terselip makna rasa syukur kepada Sang Pencipta dan bentangan alam yang telah memberikan kebaikan dan ilmu. Makna lain adalah wujud penghormatan masyarakat kepada alam yang telah berjasa menyediakan segala sumberdaya seperti kayu sehingga masyarakat bisa membuat pighau untuk sarana transportasi.

Gambaran kehidupan mereka yang sangat akrab dengan alam kemudian dituangkan dalam motif ukiran pada pompang saat membuat pighau. Pemasangan pompang pighau dilakukan setelah badan perahu selesai dikerjakan semuanya, sebagai bagian paling akhir dari perakitan pighau.

Motif ukiran pada pompang boleh dikatakan cukup menawan, lekuk motif dilakukan pengrajin menggunakan sebilah pisau runcing yang tajam. Goresan pisau pada kayu medang dibentuk sedemikian rupa sehingga mencuatkan motif lekuk Rebung di mana dalam khasanah Melayu memiliki arti kebaikan. Selain bermotif corak Rebung, ukirannya ada yang menyerupai julang pada Burung Enggang.

Diketahui bahwa masyarakat Kampar Kiri Hulu khususnya Kekhalifahan Batu Songgan hidup secara turun temurun di kawasan ulayat adatnya, Mereka menggantungkan hidup dari kekayaan hutan seperti sumber air, tumbuh-tumbuhan, dan hewan yang dikelola secara adat dengan aturan yang ketat. Alam dan kekayaan yang ada di dalamnya menjadi sangat penting bagi kehidupan karena seluruh kehidupan mereka bergantung pada hutan dan sungai. Hutan menjadi sumber mencari nafkah karena kaya akan hasil hutan bukan kayu dan sumber protein hewani. Selain hutan adalah anugerah sungai sebagai tempat mencari ikan dan sebagai jalur transportasi antar desa dan ke wilayah lainnya yang berada di sepanjang aliran sungai Subayang.

Dengan demikian, motif ukiran menawan pada pompang pighau memiliki makna penting yang menyiratkan ucapan rasa syukur pada Yang Maha Kuasa atas segala kebaikan alam kepada masyarakat berupa tanah, air, dan hutan beserta segala isinya, terutama bagi kehidupan masyarakat hukum adat di Kekhalifahan Batu Songgan.

Lain Kenegerian Lain Pula Coraknya

Di Kekhalifahan Batu Songgan setiap masing-masing kenegerian memiliki pengrajin pighau, dan setiap kenegerian selalu memiliki corak dan motif ukiran sendiri-sendiri, termasuk dalam bentuk pighaunya. Di Kampar Kiri Hulu Kekhalifahan Batu Songgan ada sebuah kenegerian atau desa yang terkenal dalam membuat pighau, desa tersebut bernama Desa Terusan.

Hampir seluruh masyarakat di Kekhalifahan Batu Songgan memesan pighau dari Desa Terusan. Motif ukiran pompang dan bentuk pighaunya sendiri sangat halus. Kenegerian atau Desa Terusan ini sudah sejak lama menjadi sentral pembuatan pighau, dan pighau yang dibuat sudah banyak dijual keluar Kecamatan Kampar Kiri bahkan ke Kabupaten Kuantan Sengingi. Pighau yang dibuat ada dua jenis, yaitu pighau bermesin robin dan pighau bermesin johnson, kedua jenis pighau ini berbeda besar dan ukurannya.

Jenis pighau bermesin robin memiliki kapasitas penumpang berisi 4 hingga 8 orang, dan harga pighau mulai 3 juta hingga 8 juta rupiah, sementara jenis pighau bermesin johnson memiliki kapasitas 12 hingga14 orang. dan harga pighau mulai 12 juta hingga 20 juta rupiah.

Jenis pighau bermesin robin memiliki kapasitas penumpang berisi 4 hingga 8 orang, dan harga pighau mulai 3 juta hingga 8 juta rupiah. [foto : nuskan – bahtera alam]

Usia pighau setelah digunakan daya tahannya tidak begitu lama, jika perawatan bagus usianya berkisar 3 hingga 4 tahun saja, namun rata-rata masyarakat di Kekhalifahan Batu Songgan setiap 1,5 tahun sudah mengganti pighau mereka dengan yang baru.

Karena daya tahan ppighau cuma beberapa tahun saja dan selanjutnya harus mengganti dengan yang baru sehingga tidak efisien dari hal biaya, maka beberapa warga mulai belajar membuat pighau sendiri. Oleh karenanya, saat ini di setiap kenegerian terkadang ada lebih dari 2 orang pengrajin pighau, namun kemampuan pengrajin di kenegerian lain masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Desa Terusan dalam hal membuat pighau. [Editor : Mu’ammar Hamidy]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *