Muara Bungkal, Kampung Tua yang Digerus HTI dan Sawit

Posted By admin on May 9, 2019


Pagi subuh itu masih gelap, beberapa warga Kampung Muara Bungkal telah bersiap pergi untuk memotong karet. Embun pagi tebal yang menempel di dedaunan dan rumput liar tidak menyurutkan langkah mereka meskipun dingin terasa menusuk tulang. Memotong karet adalah keseharian masyarakat di kampung ini sejak dulu, meskipun saat ini harga karet lagi tidak menjanjikan. Memotong karet masih menjadi pilihan untuk menambah ekonomi keluarga, disamping ada usaha alternatif lain yaitu kebun sawit.

Umumnya dalam memenuhi kehidupan sehari-hari, masyarakat aktivitasnya adalah bertani seperti berladang dan berkebun karet dan hasil karet biasanya dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara hasil ladang seperti pertanian, sebagian dibagi dengan tetangga dan sebagian dijual sendiri kepada warga sekitar atau ke penampung yang ada di kampung, atau dijual langsung ke pasar di Kecamatan Sungai Mandau.

Meskipun berada di tepi Sungai Mandau, tidak banyak warga kampung yang berprofesi sebagai nelayan. Ikan pun sudah tidak lagi banyak dan beragam seperti dulu. Ikan ditangkap dengan dijaring dan dilukah, biasanya yang berhasil tertangkap adalah dari jenis baung dan toman. Para nelayan dahulunya mempunyai aturan dalam menangkap ikan. Misalnya, ikan yang bertelur harus dilepaskan, dan tidak boleh menangkap ikan dengan meracun atau menyentrum, sehingga hasil sungai yang ada tetap terjaga dengan baik.

Pada sekitar tahun 1990, Sungai Mandau mengalami masa paceklik, terutama di musim kemarau. Karena sulit untuk mendapatkan ikan, air sungai kemudian diracun oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk memudahkan dalam menangkap ikan. Cara meracun ini bahkan dilakukan terus menerus setiap tahunnya. Hampir 10 tahun aktivitas ini berlangsung, kemudian di tahun 2000 menurun karena ikan yang didapat juga sudah sangat jauh berkurang. Beroperasinya perusahaan HTI dan kelapa sawit ikut berkontribusi atas rusaknya aliran Sungai Mandau akibat tumpahan cairan kimia yang dibuang dan mencemari perairan.

Sejak perusahaan HTI dan perkebunan sawit beroperasi di wilayah mereka, secara perlahan telah merubah pola pikir masyarakat dalam berladang. Berkebun sawit kemudian menjadi pilihan lain terlebih menggantungkan hidup dari karet yang tidak lagi memberikan harapan lebih baik. Saat ini banyak lahan karet dan lahan kosong ditanami dengan bibit sawit, dan hanya sekitar 20% saja lahan yang ada dimanfaatkan untuk berladang.

Kampung Muara Bungkal dengan keramahannya, hingga kini masih mentaati budaya dan memegang adat istiadat sehingga hubungan antar warga terasa aman dan tentram. Masyarakatnya berbudaya sopan santun, hidup membantu satu sama lain, dan saling hormat-menghormati. Masyarakat dulunya jika ingin keluar atau berbelanja dan menjual dagangan ke pasar ibukota kecamatan, menggunakan aliran sungai sebagai sarana transportasi utama. Tetapi sejak tahun 2004, alternatif jalan melalui darat kemudian dibuka, sehingga warga semakin dimudahkan jika ingin menuju ibukota di kecamatan, kabupaten, bahkan propinsi.

Sejarah Kampung Muara Bungkal

Kampung Muara Bungkal adalah sebuah kampung tertua yang berada di Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak Propinsi Riau, berdiri pada tahun ± 1836 M dan dipimpin oleh beberapa penghulu dari daerah Lipai Tuo. Dulunya, kampung ini memiliki 10 dusun dan ketika itu berada dalam wilayah Kabupaten Bengkalis hingga tahun 1999. Dusun-dusun ini menjadi pusat pemerintahan yang dikenal dengan ‘Onder Distrik Mandau’ yang berkantor di muara sungai Muara Bungkal. Karena tuntutan perkembangan zaman dan desakan kebutuhan ekonomi, masyarakat berangsur-angsur meninggalkan dusun-dusun tersebut mencari tempat yang lebih baik. Tetapi, secara perlahan muncul tiga dusun baru masing-masing bernama Dusun Pangkalan Cacing, Makbido, dan Dusun Bakung Begondang, dan tiga dusun ini kemudian menjadi dusun yang masuk dalam sistem pemerintahan kampung Muara Bungkal. Pada tahun 2016, satu dari tiga dusun berubah nama, yaitu Dusun Bakung Begondang berubah menjadi Dusun Ponti Samak.

Kampung Muara Bungkal sejak tahun 1993 termasuk kampung kategori Inpres Desa Tertinggal (IDT) hingga Siak berubah menjadi kabupaten pada tahun 1999. Pada tahun itu juga kampung ini dimasukkan dalam sistem pemerintahan Kabupaten Siak dan berada di bawah Kecamatan Sungai Mandau. Mirisnya, 10 tahun sejak Kabupaten Siak berdiri, Kampung Muara Bungkal masih tergolong kampung tertinggal, padahal kampung ini dulunya adalah kampung tua yang memiliki perjalanan sejarah dan kenangan.

Kampung Muara Bungkal berada dalam wilayah Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak Propinsi Riau, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
– Sebelah Utara berbatasan dengan Bancah Umbai dan Lubuk Umbut
– Sebelah Timur berbatasan dengan Muara Kelantan, Sungai Selodang, dan Lubuk Jering
– Sebelah Selatan berbatasan dengan Pinang Sebatang Timur
– Sebelah Barat berbatasan dengan Mandi Angin dan Lubuk Umbut

Kampung Muara Bungkal memiliki luas ± 8.442 Ha dan wilayahnya berupa daratan bertopografi datar dan beriklim tropis kemarau dan penghujan. Jika musim kemarau, suhu panas cepat mempengaruhi kondisi tanah dan menjadi gersang, sebaliknya jika musim penghujan seringkali terjadi banjir dan selalu menyebabkan aktivitas keseharian masyarakat terganggu.

Wilayah kampung umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk lahan pertanian dan perkebunan. Selain milik masyarakat, perkebunan ada yang dimiliki oleh pengusaha perorangan dan beberapa korporasi. Jenis perkebunan yang mendominasi adalah sawit dan HTI. Perkebunan sawit dimiliki oleh PT. Surya Intisari Raya (PT. SIR) seluas ± 285 Ha dan HTI dimiliki oleh anak perusahaan APP Group bernama PT. Arara Abadi seluas ± 5.400 Ha dan anak perusahaan April Group bernama PT. Riau Andalan Pulp dan Paper seluas ± 980 Ha.

Kondisi Sosial dan Pemerintahan Kampung

Penduduk Kampung Muara Bungkal berasal dari berbagai daerah, mayoritas berasal dari suku Melayu dan Jawa dengan kepala keluarga berjumlah ± 240 KK dan penduduk berjumlah ± 957 jiwa. Tradisi musyawarah mufakat, gotong royong, dan kearifan lokal sudah menjadi tradisi sejak dahulu oleh masyarakat kampung dan tradisi ini efektif menangkal benturan atau gesekan yang terjadi di tengah-tengah kelompok masyarakat. Dulu ekonomi desa berjalan sangat lamban dan masih di bawah standar, namun saat ini, ± 60% roda ekonomi di kampung sudah cukup berjalan dan masyarakat bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Kampung Muara Bungkal terbagi tiga dusun dan masing-masing dusun tidak ada pembagian wilayah secara khusus. Setiap dusun mempunyai area pertanian dan perkebunan. Kantor kampung sebagai pusat kegiatan pemerintahan kampung berada di Jalan Penghulu Baki Dusun I (Pangkalan Cacing). Selain sebagai sumbu roda pemerintahan dan administrasi, di sini sering pula dilakukan acara-acara pertemuan karena kantor dilengkapi dengan ruangan kegiatan bernama Aula Tanah Datar dan dilengkapi tempat parkir kendaraan.

Kampung Muara Bungkal dipimpin seorang Penghulu Kampung dengan 3 orang kepala dusun, 3 RK, dan 6 RT. Penghulu berasal dari kecamatan, didampingi beberapa staf seperti kepala urusan, staf administrasi, kerani, dan juru tulis. Staf yang mendampingi aktivitas penghulu, saat ini membutuhkan pengetahuan dan pelatihan terkait urusan pemerintahan seperti administrasi keuangan, surat menyurat, dan urusan admnistrasi lainnya karena minimnya sumberdaya manusia (SDM).

Berkonflik dengan Perusahaan Kayu PT. Arara Abadi

Pada tahun 1996, sebuah perusahaan kayu bernama PT. Arara Abadi (Distrik Duri I/73) masuk ke kampung Muara Bungkal. Sejak saat itu, kampung ini menjadi lokyar atau menjadi area penumpukan kayu kertas yang akan dibawa Ke PT. Indah Kiat di Perawang. Perusahaan ini mengeksploitasi kayu alam, kemudian oleh PT. Indah Kiat, kayu alam ini kemudian diproses menjadi pulp (bubur kertas) dan kertas.

PT.Arara Abadi yang beroperasi di Kampung Muara Bungkal memiliki dua distrik, yaitu Distrik Duri I/73 dan Distrik Rasau Kuning. Gejolak masyarakat kampung mulai mencuat pada 1998, karena ada indikasi lahan milik masyarakat diambil tanpa izin oleh perusahaan. Gesekan-gesekan dengan perusahaan semakin sering terjadi, terutama di Distrik Duri I/73 yang berada di wilayah 10 Dusun Lama. Ketika itu, masyarakat menolak penanaman akasia namun penolakan mereka selalu gagal dan bisa diredam karena pendekatan perusahaan dengan tokoh masyarakat setempat ‘berjalan intens.’

Pada 2004, gejolak masyarakat semakin besar dan bentrokan tidak dapat dihindarkan, sempat terjadi pembakaran pondok dan alat-alat berat milik perusahaan. Sejak saat itu, perusahaan meminta pengawalan aparat dari kepolisian dan TNI.

Sepanjang tahun 2012 hingga 2014, perusahaan berulang kali mencabut tanaman sawit milik masyarakat didampingi kawalan aparat keamanan, dengan alasan area kebun sawit dimaksud berada dalam konsesi milik perusahaan. Sejak sengketa mulai terjadi, tidak terhitung lagi letupan-letupan konflik yang bermunculan antara warga dan pihak perusahaan, termasuk terpaan isu pun pernah melanda kampung ini. Pada 2016, tersebar kabar terjadi penggusuran oleh perusahaan di Dusun Ponti Samak dan menjadi perbincangan panas di tengah-tengah masyarakat. Terpaan isu yang melanda dusun berjumlah sekitar 100 KK ini sempat memancing kemarahan dan rencana aksi dari masyarakat, tetapi kemudian bisa mereda karena ternyata cuma informasi bohong yang dihembuskan oleh orang tidak bertanggung jawab.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat masih bisa mengandalkan sisa-sisa lahan yang mereka miliki. Tetapi muncul kekhawatiran apakah masyarakat masih mampu bertahan mengingat lahan-lahan tersisa milik mereka kini sudah dikepung oleh area konsesi milik perusahaan PT. Arara Abadi.

Meskipun demikian, ada beberapa kontribusi positif perusahaan terhadap masyarakat Kampung Muara Bungkal, antara lain bantuan buku-buku untuk sekolah dasar, bantuan dana untuk anak yatim dan masyarakat kurang mampu, bantuan bibit tanaman buah-buahan, bantuan ternak kambing, bantuan pakan ikan nila dan patin untuk budidaya ikan, dan program DMPA. Salah satu yang terasa manfaatnya adalah perusahaan membuka akses jalan menuju kampung tetangga meskipun belum memadai.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *