Lubuk Larangan : Penghargaan Masyarakat Adat Terhadap Sungai

Posted By admin on Feb 27, 2019


[Oleh : Nuskan Syarif] Sore itu, pighau robin (sampan kayu bermotor) melesak laju ke hulu seakan menantang derasnya arus Sungai Subayang, sesekali melambat mengikuti liuk gemuruh air sungai yang memercik keras, menghempas, hingga menerpa pakaian yang kami kenakan. Perjalanan terus berlanjut meskipun senja mulai beranjak turun, menyuguhkan sinar mentari yang menciptakan panorama indah di balik bukit hijau pekat yang mulai temaram. Kesan ini menoreh ke sudut jiwa kami, betapa eksotisme hutan di sepanjang perjalanan menuju Desa Batu Songgan luar biasa menakjubkan.

Sepanjang perjalanan, sesekali kehidupan liar tampak menari menyambut deru bising pighau kami. Kera ekor panjang (cigak) di kiri kanan sungai berlompatan dari pohon ke pohon dan beberapa berendam di pinggir sungai, ada juga yang membersihkan diri sambil duduk-duduk di bebatuan dan rerumputan.

Sungai sebagai urat nadi kehidupan, ia juga merupakan jati diri masyarakat desa yang hidup dan saling terhubung di sepanjang Sungai Subayang. Sejak dulu kala sudah menjadi tuah dan marwah masyarakat adat, utamanya masyarakat adat di Kekhalifahan Batu Songgan. Penghargaan tinggi terhadap sungai ditunjukkan masyarakat desa dengan menjaga kelestarian hutan. Sejatinya hutan dan sungai adalah keselarasan alam, dua pusaka ini berkaitan erat dengan keberlanjutan kehidupan manusia. Alam yang tak terjaga adalah musibah bagi kehidupan.

Di kekhalifahan Batu Songgan dalam menjaga kelestarian lingkungan, mereka berpegang teguh pada kearifan lokal yang dimanifestasikan dalam aturan adat. Lubuk Larangan, adalah sebuah tradisi turun temurun dalam masyarakat Batu Songgan dalam menjaga sungai. Aturan ini bertujuan agar kekayaan dan keragaman hayati sungai dapat terpelihara sehingga bisa dimanfaatkan terus menerus oleh anak cucu secara berkelanjutan.

Lubuk Larangan punya hal yang menarik karena di setiap kenegerian di Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu, lubuknya hanya dibatasi oleh seutas tali diberi kain perca warna-warni atau bahkan cuma bentangan tali saja. Namun tidak ada seorangpun masyarakat dari masyarakat adat yang berani mengambil atau menangkap ikan. Ini karena masyarakat taat dengan aturan adat yang berlaku karena apabila melanggar akan dikenakan sanksi. Petuah aturan adat ini dipegang teguh masyarakat sejak zaman dulu hingga turun temurun.

Lubuk Larangan beserta aturan yang menyertainya cukup unik, misalnya saat buka Lubuk Larangan atau momen memanen ikan, harus melalui sebuah prosesi adat yang hingga kini masih terjaga. Membuka Lubuk Larangan hanya boleh dilakukan setiap 4-5 tahun sekali dan dirayakan oleh seluruh masyarakat desa. Lubuk larangan dibuka mengikuti jadwal musim yaitu ketika kemarau saat air sungai Subayang mulai surut. Penyelenggaraan raya ini mengundang ninik mamak, orang tua kampung, dan anak kemenakan baik di kampung maupun di perantauan.

Sebelum prosesi dimulai, pada kiri dan kanan bibir Lubuk Larangan dipancang tiang tonggegh, yaitu kandang/pagar kayu yang membentang menyeberangi sungai untuk menghamparkan jaring ikan dari tali nilon. Tonggegh mencegah kumpulan ikan luput dari tangkapan jaring, dan dipasang selama 1 – 2 hari hingga jelang penyelenggaraan buka Lubuk Larangan. Prosesi adat membuka Lubuk Larangan diawali dengan memanjatkan doa – doa dan membakar kemenyan oleh dukun kampung. Setelah itu dilakukan pelemparan jala pertama oleh perwakilan ninik mamak sebagai tanda Lubuk Larangan resmi dibuka. Begitu dibuka, setiap warga boleh ikut serta memanen ikan, menangkap, menjala atau menjaring, dan menembak ikan. Hasil panen lalu dikumpulkan, sebagian dilelang (hasil lelang untuk tabungan kenegerian) dan sebagian dimasak untuk makan bersama.

Sesungguhnya penyelenggaraan buka Lubuk Larangan di Batu Songgan memiliki daya tarik budaya sebagai bagian dari kekayaan adat istiadat khususnya di Riau, ia juga memiliki potensi wisata di samping potensi wisata alam seperti hutan dan sungai. Menjaga kekayaan dan kelestarian alam seperti hutan dan sungai sejatinya telah menjaga budaya dan adat istiadat yang melekat sejak dulu dalam diri masyarakat adat. Mengabaikan pusaka ini akan berbahaya bagi kehidupan generasi karena mereka akan tergerus oleh ganasnya kemajuan zaman. [Editor : Mu’ammar Hamidy]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *