[Oleh : Nuskan/Syafrizaldi JPang] Setengah siang hampir berlalu saat bis kami meliuk di jalan aspal, dari Pekanbaru menuju Gema. 14 orang di dalam bis tampak canggung. Sebagian mereka adalah para relawan dari Perkumpulan Triple Eleven berbasis di Belgia. Sebagian lagi adalah personil Perkumpulan Bahtera Alam dan Sawit Watch yang berbasis di Pekanbaru dan Bogor.
Barangkali perjumpaan yang baru sesaat, ditambah dengan perbedaan bahasa ibu, membuat kami lebih banyak melempar senyum. Dari Lipat Kain, Gema hanya berjarak 22 kilometer. Tapi mungkin itu waktu terlama karena kelelahan mendera sebagian besar relawan.
Demi menyaksikan banyaknya truk berisi bertandan-tandan sawit yang berlalu bersisian dengan bis kami, para relawan Triple Eleven itu tampak heran dan geram. Apa lagi di beberapa titik terdapat pabrik kelapa sawit yang mengeluarkan asap hitam. Maklum saja, para penumpang bus ini adalah para aktivis pembangunan berkelanjutan.
Pusat Kecamatan, Gema, kami dapat setelah tiga jam perjalanan. Lelah mungkin mereka rasakan meremuk tulang, karena mereka baru saja tiba dari kepulauan mentawai. Sebelum ke Mentawai, mereka berada di Lombok.
Sementara Batu Sanggan, tujuan kami, masih menyisakan satu jam perjalanan lagi dengan menggunakan pighau menyisir Sungai Subayang. Pighau adalah kendaraan yang jamak digunakan melintas sungai, sederhananya perahu bermotor.
Sepanjang perjalanan dengan pighau, perbukitan tampak mengapit Sungai Subayang. Tajuk hutan yang cukup lebat memberikan nuansa pemandangan lain. Pucuk perbukitan membiru di kejauhan. Ini sama sekali berbeda dengan perjalanan kami dengan bus sebelumnya. Ditambah lagi dengan air sungai yang bening, laju pighau tak terlalu kencang.
Inilah jantung hutan perawan Rimbang Baling. Sedianya, kawasan ini merupakan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Kawasan ini masih menyimpan misteri alam liar yang belum terungkap. Berikut pula dengan kehidupan masyarakat Melayu Riau yang jauh memencil dari bising perkotaan.
Para penumpang mulai tersenyum. Rasa canggung yang sebelumnya memerangkap kini telah mencair seiring dengan liukan Sungai Subayang. Apa lagi, secangkir kopi yang kami nikmati di Gema sesaat sebelum menaiki pighau telah memecah suasana menjadi lebih riang.
Percikan air di pegangan tangan pighau menambah-nambah kemeriahan perjalanan ini. Tak hanya itu, begitu pighau berbelok atau berselisih jalan dengan pighau lain, air menyiram penumpang. Mereka basah di berbagai tempat. Mesin pighau terus meraung bersaing dengan deru air sungai yang deras.
Kamp Kelompok Kerja Ekowisata Batu Bolah Kenegerian Batu Sanggan kami dapati usai bercengkarama dengan liukan Sungai Subayang. Kamp ini terbuat dari kayu meranti bewarna cokelat.

Hari menjelang sore ketika rombongan kami mandi, air sungai berkilau diterpa matahari yang condong ke Barat. Tak ada lagi canggung yang menyiksa, tak pula tandan sawit yang mengganggu mata.
Kain samping, merupakan secarik kain yang menutup badan ketika mandi. Di beberapa tempat, pemuda mandi hanya dengan celana pendek. Tapi khusus perempuan, mereka harus menggunakan kain samping jika tak mau seluruh auratnya tersingkap.
Kebiasaan ini langsung ditularkan kepada sahabat-sahabat kami dari Belgia itu, termasuk pula beberapa orang perempuan yang tergabung dalam rombongan. Walau tampak kikuk, tapi mereka dibantu oleh anak-anak muda yang terlibat Pokja Ekowisata.
Suara calempong mengiringi tradisi memakai kain samping itu. Calempong sendiri sedianya adalah beberapa bilah kayu yang disusun dan diatur sedemikian rupa. Kayu ini menghasilkan nada yang berbeda. Nada berasal dari pukulan kayu yang dimainkan oleh anak-anak SMP batu Sanggan. Suasana benar-benar meriah.
Matahari sudah betul-betul condong ke Barat. Rombongan telah usai mandi, tapi suara calempong terus mengaduk-aduk pendengaran dengan nada yang teratur.
Anak-anak muda yang mengelola Pokja Ekowisata mulai akrab. Mereka terbiasa menerima tamu di kampnya. Wilayah ini bertumbuh menjadi lokasi ekowisata baru seiring dengan kemauan para pemuda, kaum adat, dan pemerintahan nagari menjadikan Batu Sanggan sebagai tujuan wisata khusus.
Beberapa orang tampak menyiapkan api unggun ketika gelap menyergap Batu Sanggan. Kamp kini tengah bersiap santap malam. Makanan tradisional tersuguh dalam wadah-wadah yang rapi. Sementara suara calempong mengalun tak henti dari luar kamp.
Kenegerian Batu Sanggan adalah kenegerian induk di Kekhalifahan Batu Sanggan, terdiri dari enam kenegerian termasuk Batu Sanggan. Kenegerian lainnya adalah Gajah Betalut, Terusan, Miring, Aur Kuning, dan Pangkalan Serai. Seluruh kenegerian berada di sepanjang aliran Sungai Subayang.
Rumah pohon kami dapati usai mendaki Bukit Kampung Tua keesokan harinya. Malam kami yang terlewat dengan gembira telah menambah energi mendaki bukit itu di pagi hari. Pendakian yang kami lewati cukup curam. Di kiri-kanan pendakian, pepohonan rindang melindungi dari terik matahari pagi.
Jalan setapak yang kami lewati harus mendaki bukit. Sesekali rombongan berhenti untuk menarik nafas dalam, menyesap sensasi udara tanpa polusi. Sekaligus beristirahat, mengatur nafas agak tak terus tersengal. Keriuhan pepohonan menjadi topik hangat. Para relawan asal Belgia tampak mendiskusikan beberapa bunga yang mereka temui sepanjang perjalanan. Tentu saja itu belum pernah mereka jumpai di negerinya.
Di rumah pohon, kami menikmati pemandangan alam yang rupawan. Puncak-puncak perbukitan tampak di kejauhan. Sebagian puncak bahkan masih tersungkup kabut. Pemandangan ini sungguh mengantarkan kami pada kenyataan bahwa Rimbang Baling adalah keteduhan yang menyimpan banyak misteri liar.
Sesungguhnya, kami masih ingin menyaksikan pucuk perbukitan berkabut itu dari rumah pohon. Tapi sebentar lagi tentu puncak-puncak itu akan tertutup kabut yang lebih tebal.
Masyarakat sudah menanti di pusat kenegerian. Mungkin mereka rindu bercengkarama dengan turis yang sama sekali jarang datang ke wilayah itu. Kalaupun ada, tak sebanyak rombongan asal Belgia ini.
Walaupun diskusi dengan warga harus dilakukan melalui penerjemah. Sesekali diskusi bahkan berlangsung dengan isyarat. Hangatnya suasana mengakrabkan mereka, masyarakat dan para relawan.
Di Batu Belah, para relawan dan rombongan kami menyaksikan sebuah batu yang betul-betul terlihat terbelah. Batu ini adalah ikon utama ekowisata Batu Sanggan. Ukurannya tak terlalu besar, mungkin tinggi semeter seukuran anak gajah. Batu Belah sendiri kami dapati usai perjalanan dengan pighau dari pusat kenegerian.
Batu Belah konon berasal dari legenda setempat. Dikisahkan, seorang pemberani yang berasal dari tanah Jawa pernah datang ke wilayah itu, Gak Jao namanya. Banyak warga yang mengasosiasikan Gak Jao dengan Patih Gajah Mada asal Kerajaan Majapahit. Dia datang ke wilayah tersebut untuk membawa Putri Lindung Bulan.
Dikisahkan, Gak jao adalah orang tinggi besar. Kedatangannya bahkan membuat warga ketakutan. Tak ada warga yang bersedia menemuinya. Hal ini membuat Gak Jao kesal dan marah. Kemarahannya lantas disalurkan dengan mencincang batu. Batu itulah yang kini dikenal dengan Batu Belah.
Dari tempat ini, rombongan sudah harus bersiap-siap untuk betul-betul mencebur ke dalam air. Pokja Ekowisata telah menyiapkan kegiatan body rafting menyusuri Sungai Subayang. Pelampung tersedia, rombongan harus hanyut dari Batu Belah menuju Kamp. Dari sini, petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.
410 
April 8, 2019
Hi, thanks for the article but I don’t understand it… I was one of the group of visitors from triple eleven from Belgium. I am not on the picture because I was taking pictures myself. It was a great experience!
I hardly dare to ask it as it requires quite some effort, but could someone translate this article to English? If it’s not possible I’ll understand it.
I’d like to use the content for a presentation I’m preparing about our journey.
Kind regards,
Nico
March 8, 2021
Hi Nico, we will send you english translete about this article. See you soon. Thanks.
Admin – Bahtera Alam