Pighau, Perahu Tak Tergantikan Sepanjang Masa

Posted By admin on May 31, 2021


[Oleh : Nuskan Syarif]  Kekhalifahan Batu Songgan memiliki wilayah adat yang sangat luas, di dalamnya terdapat enam kenegerian yang diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-1, bahkan sebelum itu. Menurut tetua kampung, konon kehidupan masyarakat masih makan panggang kaluang (makan kalong yang dipanggang).

Dalam masa abad tersebut, masyarakat belum mengenal agama apapun, mereka menganut kepercayaan kepada arwah leluhur (animisme). Daerah satu dengan daerah lain hanya bisa dicapai berjalan kaki dan menyeberangi sungai dengan berenang atau mencari tempat yang dangkal – dalam istilah lokal disebut melayok.

Dalam perkembangan zaman, masyarakat mulai mengenal perahu. Perahu awalnya mereka buat dari kayu bulat rimba dengan mengeruk atau melubangi bagian dalam kayu menggunakan alat tradisional bernama beliung (baliwuang). Selain itu mereka juga masih menggunakan perkakas sederhana seperti ketam tangan, parang, palu, dan pisau. Untuk menebang kayu di hutan juga masih menggunakan beliung, dan membelah kayu menjadi papan masih menggunakan gergaji tangan yang dioperasikan oleh dua orang. Kayu yang diolah tersebut lalu dibentuk hingga menjadi perahu jalugh (jalur).

Perahu jalugh ini didayung atau digalah menggunakan tenaga manusia dan menjadi transportasi sehari-hari masyarakat baik dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya, mengangkut hasil bumi ke daerah yang ramai seperti Lipat Kain, dan untuk menuju ke kota kerajaan di Gunung Sahilan.

Tetua masyarakat kampung mengungkapkan, jika ditinjau dari sejarah, konon leluhur adat sudah menggunakan sejenis perahu bernama perahu kajang saat menjemput raja ke Mudiak (Kerajaan Pagaruyung) untuk dijadikan raja di Kerajaan Gunung Shailan, Sejarah soal perahu ini memunculkan pertanyaan, seperti apakah perahu kajang yang digunakan untuk menjemput Putra Raja lalu dibawa ke Rantau Kampar Kiri?

Jika menggunakan perahu jalur, bisa dibayangkan sebesar apa kayu bulat yang digunakan, dan tidak heran pada masa itu ukuran pohon kayu di hutan memang tergolong besar-besar dan tinggi.

Awal tahun 1970-an, perahu yang digunakan masyarakat kian berkembang seiring perkembangan zaman. Saat ini, masyarakat lokal menyebut perahu dengan nama pighau. Perahu kemudian tidak lagi menggunakan tenaga manusia, tetapi menggunakan mesin. Jenis mesin perahu yang umum digunakan masyarakat kenegerian ini adalah jenis mesin Johnson dan Robin, sehingga jika warga setempat ingin mengatakan naik perahu apa, cukup dengan mengatakan johnson atau robin.

Perahu robin mampu memuat beban sekira 300 hingga 600 kg, sedangkan johnson mampu memuat beban lebih banyak. Harga pighau atau perahu ini pun berbeda-beda. Perahu robin berkisar antara 4,5 juta hingga 6 juta rupiah, tergantung ukuran perahu, sedangkan perahu johnson bisa mencapai 12 juta rupiah satu unitnya. Daya tahan perahu juga bervariasi tergantung intensitas pemakaian dan pemeliharaan oleh pemilik perahu. Biasanya perahu mampu bertahan 1,5 hingga 3 tahun pemakaian. Namun untuk wilayah hulu seperti Terusan, Salo, dan Pangkalan Serai yang memiliki jeram lebih besar dan permukaan air selalu dangkal di saat kemarau, usia perahu berkisar 1,5 tahun saja kemudian pemilik perahu akan mengganti dengan yang baru.

Pada masa awal menggunakan mesin, kipas mesin posisinya persis berada di bawah perahu, sehingga apabila menyusuri sungai dangkal, kipas sering patah dan rusak terkena bebatuan dan kayu di dasar sungai. Pemakaian tangkai kipas mesin kemudian dimodifikasi sehingga bisa diatur ketinggiannya dari dasar atau permukaan air sungai.

Saat ini, dalam membuat perahu pun menjadi cepat dan mudah, ketika masyarakat sudah mengenal mesin gergaji chainsaw dan ketam listrik. Pembuatan perahu makin lama kian modern khususnya di Rantau Subayang, Kekhalifahan Batu Songgan.

Bentuk fisik, nama, dan ukiran perahu jalugh/jalur juga terus berkembang, berganti ke perahu yang menggunakan helaian-helaian papan khusus dan dirakit sedemikian menjadi satu kesatuan. Nama pada bagian tertentu pada perahu juga diberi nama unik, dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Contohnya perahu di Rantau Kampar Kiri khususnya di Rantau Subayang memiliki bentuk haluan yang khas, masyarakat lokal menyebutnya dengan nama Pompang Pighau. Bagian ini dikerjakan secara khusus, bentuknya dipenuhi ukiran dan corak yang artistik.

Pak Bogok, Sang Ahli Pembuat Perahu

Di Kenegerian Terusan, Kampar Kiri Hulu terdapat seorang tua yang ahli dalam membuat perahu, namanya Bapak Nasar atau lebih dikenal dengan Pak Bogok. Ia salah satu pengrajin perahu yang pernah ada di Kekhalifahan Batu Songgan. Sejak tahun 1978 telah berkecimpung dalam pembuatan perahu menggunakan rangkaian papan.

Saat ini, Pak Bogok masih mampu berkarya. Tidak sedikit yang belajar dan menimba ilmu kepada Pak Bogok. Jika ada yang datang bertanya atau belajar cara membuat perahu, Pak Bogok akan runut menjelaskan sesuai ilmu dan pengalaman yang ia miliki, mulai persiapan bahan hingga menjadi perahu utuh.

Bapak Nasar atau Pak Bogok, bersama perahu hasil karyanya. Pak Bogok sudah menekuni profesinya sejak 1978 dan hingga kini masih mampu membuat perahu atau pighau yang kuat dan handal. [foto : Bahtera Alam]

Meskipun di setiap kenegerian memiliki pengrajin perahu, namun keahlian mereka tidak bisa disamakan dengan Pak Bogok. Selain Pak Bogok, ada dua pengrajin perahu lainnya yang ada di Terusan, yaitu Pak Sumi dan Napi. Mereka dulunya adalah anak murid Pak Bogok, sekarang sudah memiliki tempat pembuatan perahu sendiri dan tidak jauh dari tempat pembuatan perahu milik Pak Bogok. Beserta mereka terdapat beberapa orang yang membantu dan masih dalam tahap belajar membuat perahu.

Pohon kayu medang dan meranti yang berusia tua merupakan bahan kayu terbaik untuk membuat perahu, tetapi sudah cukup langka dan sulit didapat. Agar tidak punah, masyarakat kemudian memberlakukan tebang pilih untuk dua jenis ini. Pohon kayu yang belum berusia tua dibiarkan tumbuh baik, sehingga jenis pohon kayu medang dan meranti mulai banyak tumbuh di pinggiran perkampungan dan dijaga oleh masyarakat.

Perahu/pighau hingga sekarang masih menjadi satu-satunya sarana transportasi masyarakat Subayang khususnya di kekhalifahan Batu Songgan. Meskipun pada tahun 2019, jalan darat mulai dibuka sebagai jalur penghubung alternatif antar desa, belum mampu menjadi pengganti jalur sungai mengingat lebar jalan cuma 1,5 meter, turun naik, tidak rata dan licin, dan beberapa area membahayakan pengguna jalan.

Sungai Subayang telah menjadi jalur utama penghubung yang tidak tergantikan. Hampir seluruh bahan makanan dan bangunan dibawa menggunakan perahu dari Desa Gema (Ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu) menuju desa-desa yang terhubung di sepanjang aliran sungai.

Sebelum Kecamatan Kampar Kiri Hulu mekar dan masih bergabung dengan Kecamatan kampar Kiri, ibukota kecamatan berada di Lipatkain, seluruh hasil bumi baik pertanian maupun hutan dibawa ke Lipatkain menggunakan perahu. Tetapi setelah dibangun jalan tembus ke Kenegerian Kuntu, aktivitas masyarakat beralih ke daerah ini. Setelah pemekaran Kecamatan Kampar Kiri Hulu, aktivitas masyarakat akhirnya terpusat di Desa Gema.  [Editor : Mu’ammar Hamidy]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *