Abrasi dan Kerusakan Mangrove Ancam Kampung Sungai Rawa

Posted By admin on Apr 6, 2020


[Oleh : Hasri Dinata] – Di Pesisir Timur Kabupaten Siak, terdapat sebuah kampung yang berada di pinggiran selat (Selat Panjang) dan memiliki sungai yang berhulu ke Danau Zamrud. Kampung ini bernama Sungai Rawa, sebuah kampung yang diliputi oleh hutan mangrove yang cukup luas. Namun, dibalik luasnya hutan mangrove, masyarakat desa menyimpan cerita sedih dan pilu, bagaimana ancaman kerusakan lingkungan menghantui mata pencaharian masyarakat setempat.

Pagi itu hari cukup cerah saat para nelayan pulang dari melaut, dengan sigapnya nelayan menambatkan perahu mereka di dermaga. Sungguh riang hati keluarga saat menyambut ayah atau suami mereka pulang melaut membawa hasil tangkapan. Memang hasil hari itu tidak terlalu banyak tetapi bisa untuk dijual keliling kampung sehingga cukup membeli kebutuhan pokok sehari-hari.

Hasil tangkapan para nelayan tergantung dengan kondisi alam sekitar. Selain kondisi cuaca di laut, kondisi hutan mangrove juga cukup mempengaruhi keberadaan ikan di wilayah pesisir. Jika hutan mangrove di pinggir pantai tumbuh subur dan rimbun, maka hasil tangkapan nelayan bisa lebih banyak.

Abrasi pantai telah merusak pohon mangrove yang tumbuh di pesisir perairan Kampung Sungai Rawa, jika dibiarkan terus menerus, bisa berbahaya bagi masyarakat tempatan [foto : Bahtera Alam]

Kondisi saat ini, hutan mangrove yang berada di kampung Sungai Rawa sudah banyak yang rusak karena kayunya sering ditebang sehingga abrasi pantai tidak terelakkan. Menurut cerita para nelayan, hutan mangrove banyak ditebang karena permintaan kayu bakau yang tinggi dari para cukong. Kayu dijual kepada cukong untuk diolah menjadi arang.

Selain itu, hempasan kayu-kayu akasia yang terapung dan hanyut di sekitar kawasan perairan, telah merusak banyak pepohonan bakau yang tumbuh di pinggir pantai pada sepanjang kawasan itu. Kayu-kayu yang terjatuh dari kapal-kapal tongkang milik salah satu perusahaan kayu terbesar, juga sering merusak perahu-perahu nelayan. Kapal-kapal besar yang melintas juga telah merusak jaring-jaring ikan milik para nelayan, sehingga nelayan mengalami kerugian yang besar dalam jangka waktu yang cukup lama dan berakibat merosotnya pendapatan atau penghasilan mereka.

Dahulu, air laut tidak pernah naik hingga ke pemukiman warga kecuali pasang besar di akhir tahun saja. Tetapi saat ini apabila terjadi pasang tinggi, rumah warga yang berjarak 1 km dari bibir pantai ikut terkena dampak, akibat proses abrasi yang parah dan terus menggerus bibir pantai. Air pasang akhirnya mengalir memenuhi sumur-sumur air bersih milik warga.

Jika hutan mangrove ditebang terus menerus maka akan berakibat terhadap kepunahan pohon bakau khususnya yang berada di wilayah pesisir di kampung Sungai Rawa dan berakibat buruk bagi perekonomian masyarakat sekitar.

Saat ini warga dan para nelayan secara perlahan mulai sadar akan pentingnya menjaga kelestarian hutan mangrove karena mampu mencegah terjadinya abrasi.

Jeti kayu akhirnya semakin maju ke arah laut dan perlahan rusak, setelah abrasi semakin jauh ke arah darat. Beberapa tempat pesisir di Kampung Sungai Rawa mengalami hal ini. Perlu antisipasi segera dengan merehabilitasi wilayah pesisir dengan penanaman pohon bakau kembali [foto : Bahtera Alam]

Atas kepedulian itu, sekelompok masyarakat di kampung kemudian membangun komunitas Penyelamat Hutan Mangrove. Aksi yang mereka lakukan adalah merehabilitasi kawasan pesisir pantai yang terdampak dan beberapa area yang dianggap rawan abrasi.

Kelompok ini tidak bisa bergerak sendiri sehingga perlu mendapat dukungan dari banyak pihak atau stakeholders, termasuk pemangku kepentingan yang mendorong kebijakan untuk pengelolaan dan pelestarian hutan mangrove.

Saat ini, ada lebih kurang 30 jenis spesies mangrove yang terindentifikasi tumbuh di kampung Sungai Rawa. Data spesies dimaksud dikumpulkan oleh sekelompok masyarakat tempatan.

Terjaganya hutan mangrove dari kerusakan, selain mampu menjaga tepi pantai dari abrasi, juga dapat membangkitkan kembali perekonomian masyarakat tempatan terutama kaum nelayan. Hasil tangkapan seperti ikan, udang, siput, lokan, kepiting, sepetang, dan lainnya bisa dihasilkan atau didapatkan secara terus-menerus atau berkelanjutan. Selain itu, potensi madu lebah seperti dari lebah ambun dan lebah kelulut juga bisa dikembangkan.

Pelestarian hutan mangrove harus terus disuarakan oleh masyarakat kampung Sungai Rawa, karena sekarang abrasi masih terus terjadi di wilayah pesisir di kampung ini. Jika tidak, maka akan ada beberapa sumber mata pencaharian yang hilang sehingga mengancam perekonomian dan sumber penghidupan milik masyarakat Kampung Sungai Rawa. [*] [Editor : Mu’ammar Hamidy]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *