Masihkah Nelayan Sebagai Pilihan di Kampung Sungai Rawa?

Posted By admin on Apr 1, 2020


[Oleh : Hasri Dinata] – Saat itu siang menuju sore, matahari masih terasa terik, Rizuan, seorang pria bertubuh kurus sibuk dengan aktivitas membersihkan rumput ilalang yang tumbuh di barisan pohon nenas yang dirawatnya. Paparan sinar mentari tidak membuatnya berhenti. Baginya mengelola kebun nenas merupakan pekerjaan sampingan untuk menambah income keluarga di samping berprofesi sebagai guru.

Bagi sebagian masyarakat Kampung Sungai Rawa, berkebun nenas menjadi ekonomi tambahan yang menjanjikan. Selain karena perawatannya relatif mudah, usia panennya juga tidak terlalu lama.

Menurut Rizuan, berkebun nenas adalah aktivitas setelah pulang mengajar di sekolah. Sebagai guru honorer di salah satu sekolah menengah pertama di Kampung Penyengat, waktu luangnya dimanfaatkan berkebun nenas demi memenuhi kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Kampung Sungai Rawa memiliki pekerjaan yang bermacam-macam, ada yang bertani, berkebun sawit, berkebun sagu, buruh bangunan, buruh perusahaan, nelayan laut, nelayan sungai, dan ada yang menjadi pegawai negeri sipil. Bagi petani, hasil bertani seperti palawija dijual sekitar kampung saja dan petani sawit menjual buah sawit kepada toke lokal/kampung walaupun harga yang dijual relatif murah.

Kampung Sungai Rawa berada di Pesisir Timur selat (Selat Panjang) dan memiliki sungai yang berhulu ke Danau Zamrud (Taman Nasional), sehingga sebagian warga kampung ada yang berprofesi sebagai nelayan. Berdasarkan informasi pemerintah kampung pada 2018, terdata sekitar 30 warga yang berprofesi sebagai nelayan laut, sedangkan yang berprofesi sebagai nelayan sungai sudah tidak banyak lagi. Hal ini disebabkan oleh hasil tangkapan yang sudah sangat jauh berkurang, tidak seperti ketika pada periode tahun 90-an.

Dahulu profesi nelayan merupakan profesi yang jamak dilakoni oleh masyarakat Kampung Sungai Rawa. Semenjak ekosistem perairan mulai rusak, profesi ini secara perlahan mulai ditinggalkan, dan sebagian beralih mejadi petani nenas.

Dari diskusi bersama warga kampung, ada beberapa faktor yang menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan para nelayan. Masuknya perusahaan HTI yang beroperasi di sekitar wilayah kampung menjadi salah satu penyebab. Limbah perusahaan menyebabkan perairan menjadi tercemar. Selain itu, kegiatan panglong arang (bedeng yang memproduksi arang dari bahan baku kayu bakau) ikut memicu rusaknya ekosistem mangrove dan aliran sungai.

Pembangunan di Kampung Sungai Rawa beberapa tahun terakhir sudah nampak menggeliat, sehingga banyak orang luar yang hilir mudik masuk dan keluar kampung. Meskipun demikian, masyarakat tempatan tetap menjaga adat istiadat dengan baik untuk mencegah infiltrasi dari pihak luar. Kekompakan warga menjadi kekuatan untuk saling menjaga eksistensi Kampung Sungai Rawa sebagai kampung melayu yang masih memegang teguh adat istiadat mereka.  [*] [Editor : Mu’ammar Hamidy]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *