Budidaya Kelulut dan Tantangannya

Posted By admin on Mar 4, 2019


[Oleh : Nuskan Syarif – Pembina Petani Budidaya Kelulut] Riau memiliki potensi madu lebah cukup penting dan besar dengan spesies beragam, mulai dari madu lebah Sialang (Apis dorsata) yang menghasilkan madu lebih banyak hingga madu lebah yang dihasilkan oleh lebah sengat terkecil (Apis cerana). Selain jenis itu, ada juga lebah tanpa sengat dan tidak ganas, saat ini dilirik sebagai potensi madu lebah yang mulai banyak digemari karena rasanya yang unik, yaitu dari jenis Trigona spp. atau dikenal pada tingkat lokal dengan nama Kelulut atau Galo Galo atau Trigona.

Kelulut menjadi salah satu lebah penghasil madu terbaik saat ini karena khasiatnya bagi kesehatan dan stamina tubuh serta harga jual yang tinggi, dan bisa menjadi alternatif usaha bagi masyarakat pedesaan apabila dikelola dengan tepat.

Di Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu, budidaya Kelulut dimulai tahun 2016 awal di Desa Sungai Geringging Kelurahan Lipatkain Kecamatan Kampar Kiri, saat itu jumlah stup/log (kotak lebah) yang digunakan untuk budidaya sebanyak 12 stup dengan pilihan spesies lebah Kelulut dari jenis Heterotrigona Itama. Budidaya ini kemudian merambah ke Desa Gema Kecamatan Kampar Kiri Hulu, dan melibatkan masyarakat secara menyeluruh. Di desa ini masyarakat diharuskan ikut serta dalam perencanaan dan penerapan di lapangan terkait budidaya Kelulut.

Di Desa Sungai Geringging, yang sekarang sudah berorientasi bisnis budidaya Kelulut, pada awalnya adalah untuk membangun pusat edukasi budidaya Kelulut di Kampar Kiri secara luas, sehingga mendorong desa lainnya seperti Desa Gema untuk ikut mengembangkan budidaya Kelulut. Di Desa Gema, budidaya Kelulut dimulai dengan pola kerjasama berbentuk sistem bapak angkat, namun di perjalanan, pola ini tidak terlaksana dengan baik karena bisnis illegal logging di desa dipandang lebih menguntungkan. Akibatnya banyak warga tidak berkeinginan lagi membudidayakan Kelulut, bahkan cenderung menjual stup atau kotak (sarang) lebah.

Selain Desa Sungai Geringging dan Desa Gema, Desa Koto Lamo dicoba untuk menjadi titik selanjutnya untuk pengembangan budidaya Kelulut. Proses edukasi dilakukan selama 3 bulan secara terus menerus dan secara perlahan minat masyarakat semakin meningkat dan telah menghasilkan walau masih dalam skala kecil. Pada April hingga Agustus 2016, masyarakat Koto Lamo telah memiliki 250 stup budidaya Kelulut dengan jumlah kepala keluarga yang aktif ikut serta dalam usaha ini berjumlah ± 150 orang. Jenis lebah Kelulut yang dikembangkan juga dari beragam jenis, mulai species terkecil hingga yang berukuran besar.

Dalam memperkenalkan alternatif usaha kecil berbasis budididaya lebah Kelulut ke tengah – tengah masyarakat Koto Lamo ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak cibiran dan lontaran pesimis dari masyarakat atas usaha ini yang diarahkan kepada pembina petani karena budidaya Kelulut dianggap tidak menghasilkan dan sia – sia belaka. Namun demikian, ada sejumlah masyarakat yang tetap optimis dan bersemangat untuk mencoba mengembangkan Kelulut di desa mereka. Berkat optimisme dan dorongan tiada henti, perkembangan budidaya Kelulut secara perlahan berkembang baik dan menghasilkan di desa ini, beberapa masyarakat yang dulunya menolak, sekarang ikut mengembangkan juga.

Pada akhir 2016 dan akhir 2017, budidaya Kelulut sempat mengalami stagnan akibat aktivitas pembalakan, karena masyarakat cenderung memfokuskan diri dalam usaha illegal logging, namun tidak berlangsung lama. Hasil dari bincang-bincang dengan masyarakat desa, keenderungan masyarakat kepada illegal logging karena dari sisi ekonomi lebih menguntungkan meskipun beresiko tinggi, jika dibandingkan dengan penghasilan dari kebun karet dan hasil budidaya kelulut. Ditambah lagi pada tahun itu, karet sebagai penghasilan utama masyarakat mengalami penurunan harga sangat rendah di pasaran, sehingga hasilnya tidak mampu menutupi biaya rumah tangga, biaya sekolah anak, dan lain sebagainya. Untuk budidaya Kelulut, memang memberikan nilai positif yang besar bagi masyarakat karena menjadi usaha alternatif namun belum bisa menjadi nilai ekonomis yang utama karena pengelolaan dan pengembangannya di masyarakat masih dalam skala kecil, butuh proses panjang, dan bimbingan yang serius.

Pendampingan budidaya Kelulut oleh pembina di Desa Koto Lamo pun sempat vakum hampir satu tahun, dampak yang terjadi adalah harga madu di tengah masyarakat menjadi tidak stabil dan muncul spekulasi harga yang tidak mengikuti standar, berbeda ketika pendampingan masih dilakukan di mana harga jual madu Kelulut berada dalam kisaran standar dan dengan harga lebih baik jika dijual di ibukota kecamatan. Persoalan harga ini kadang dipicu oleh segelintir masyarakat yang berperan menjadi aktor ‘pengganggu,’ karena punya kepentingan atas usaha ini, sehingga ianya menjadi masalah tersendiri.

Mengembangkan budidaya madu Kelulut sebenarnya tidak sulit, tetapi sebagai bagian dari usaha alternatif untuk bisa menggerakkan roda perekonomian di tengah masyarakat desa perlu perjuangan yang sungguh-sungguh, terus menerus dan berkesinambungan, sehingga budidaya ini bisa menjadi usaha alternatif yang menguntungkan dan berskala luas, mengingat budidaya ini memiliki potensi luar biasa jika ditekuni dengan fokus dan serius.

Kemudian dari pada itu, masyarakat desa khususnya masyarakat yang hidup dekat di sekitar wilayah penyangga, membutuhkan pembinaan dan penyadaran yang tinggi bahwa mengambil kayu alam sebagai sumber ekonomi adalah tidak dibenarkan karena bisa merusak kelestarian hutan dan alam serta makhluk hidup yang bersebati di dalamnya. Mengenalkan dan mengembangkan sumber – sumber ekonomi alternatif lainnya perlu digalakkan di tengah-tengah masyarakat sehingga mereka mampu memiliki usaha yang bisa menjadi pegangan hidup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan penghidupan layak, salah satu contohnya adalah pengembangan budidaya lebah Kelulut itu. [Editor : Mu’ammar Hamidy]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *