Potensi Budidaya Kelulut di Desa Batu Sanggan

Posted By admin on Dec 26, 2019


[Oleh : Nuskan Syarif] Potensi madu lebah di Desa Batu Sanggan bisa sangat menjanjikan apabila dibudidayakan dengan benar dan dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat. Madu lebah banyak digemari terutama yang dihasilkan dari lebah kelulut karena rasanya yang unik, yaitu dari jenis Trigona spp. atau dikenal pada tingkat lokal dengan nama Kelulut atau Galo Galo atau Trigona. Lebah kelulut termasuk jenis yang tidak ganas dan tidak memiliki sengat, berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan lebah biasa.

Madu lebah Kelulut atau biasa kita kenal dengan lebah Trigona sangat kaya akan manfaat dan khasiat. Propolis yang terdapat pada lebah Trigona juga dapat digunakan untuk perawatan, kesehatan, dan juga kecantikan. Kelulut menjadi salah satu lebah penghasil madu terbaik saat ini karena khasiatnya serta harga jual yang tinggi, dan bisa menjadi alternatif usaha bagi masyarakat pedesaan apabila dikelola dengan tepat.

Kenegerian Batu Songgan berada di Kabupaten Kampar, Kecamatan Kampar Kiri Hulu Propinsi Riau, dengan desa bernama Batu Songgan, Muara Bio. Luas Wilayah Adatnya adalah 7.414 Ha dengan kondisi fisik wilayah perbukitan dan daratan. Desa Batu Songgan bisa dicapai dalam satu jam perjalanan melalui Desa Gema menggunakan sampan bermotor atau oleh masyarakat setempat disebut dengan pighau.

Desember 2019 yang lalu, Nuskan Syarif dari Perkumpulan Bahtera Alam, menyelenggarakan focus group discussion (FGD) di Desa Batu Songgan bersama masyarakat desa mendiskusikan soal budidaya dan pengelolaan madu kelulut/trigona. Kegiatan FGD akan dikombinasikan dengan kegiatan lapangan sebagai tahapan praktek seperti cara pembuatan kotak sarang kelulut, tekhnik pencarian lebah kelulut di hutan, dan lainnya. Pelatihan budidaya kelulut diharapkan bisa membangkitkan animo masyarakat di Desa Batu Songgan sebagai sumber penghasilan alternatif, yang mana keseharian mata pencaharian warga adalah menakik karet/getah dan berkebun.

Pertemuan pengelolaan budidaya kelulut/trigona ini disambut baik oleh warga. Hadir dalam pertemuan sejumlah 30 warga desa dan mereka antusias mengikuti praktek budidaya kelulut/trigona. Kegiatan awal dimulai dengan pembuatan kotak sarang atau disebut dengan topping.

Membuat Topping/Kotak Sarang Kelulut

Cara pembuatan topping harus memperhatikan ketebalan papan, ukuran kotak, dan luas/besar kotak. Tujuannya agar lebah kelulut mendapatkan rasa nyaman untuk bersarang bagi koloninya. Papan yang digunakan bisa dari jenis kayu apa saja dan dalam keadaan kering dan lebih baik lagi dalam keadaan telah didiang (diasapi dalam kurun waktu tertentu).

Papan yang digunakan berukuran tebal 4 cm x lebar 26 cm x panjang 3 meter. Sementara ukuran topping/kotak adalah Lebar 50 cm x panjang 50 cm x tinggi 26 cm, dan papan dirapikan dengan diketam.

Setelah topping/kotak disiapkan, pertemuan antar papan harus disumbat dengan damar, tujuannya agar udara tidak masuk melalui sela-sela kayu ke dalam kotak. Langkah selanjutnya adalah pemotongan log/sarang kelulut berupa kayu bulat. Proses pemotongan perlu kehati-hatian agar saat pemotongan tidak mengenai telur dan dianjurkan hanya sampai pada bee bread atau roti lebah saja. Fungsinya untuk memberi ruang gerak bagi cikal bakal kantong madu agar berada di dalam topping.

Setelah log dipotong, selanjutnya topping/kotak dipasang di atas sarang alami dan bagian atas kotak diberi lapisan plastik kaca untuk memberi sekat ruang aktivitas kelulut. Cara ini dilakukan untuk mempermudah proses pemanenan ke depan sehingga tidak mengganggu aktivitas lebah pekerja kelulut saat membangun rangkaian sarang di dalam topping. Kemudahan lain adalah petani kelulut bisa memeriksa aktivitas dan madu yang dihasilkan oleh kelulut secara berkala.

Selanjutnya pada bagian atas plastik kaca diberi tutup topping berupa kotak papan yang tidak begitu tebal dan dilapisi tikas plastik untuk mencegah paparan sinar matahari dan mengurangi cahaya yang masuk ke dalam toping, sehingga aktivitas lebah pekerja kelulut tidak terganggu.

Jenis Kelulut/Tigona yang Dibudidayakan

Ada beberapa jenis kelulut/trigona yang memiliki nilai ekonomis, salah satunya adalah Itama. Selain itu ada beberapa jenis lain yaitu Apicalis, Binghami, Melina, dan Gunting. Beberapa jenis Lapidotrigona yang bisa dibudidayakan dengan tingkat nilai ekonomis menengah adalah jenis Lepido trigona Terminata dan Lepidotrigona Doipensis.

Sedangkan jenis Minor seperti Leavicep bisa dibudidayakan dengan skala besar karena untuk mencapai nilai ekonomis baik, minimal masyarakat harus memiliki 20 stup/sarang jenis Leavicep untuk mencapai nilai panen 2 kg/panen.

Produk Turunan Trigona/Kelulut

Produk turunan yang bisa didapatkan dari budidaya trigona ini adalah Madu Trigona, Propolis Raw, dan Bee pollen. Ketiga produk turunan ini masing-masing memiliki nilai ekonomis dan memiliki harga tersendiri. Saat ini selain madu, Bee Pollen disukai oleh masyarakat untuk sumber vitamin alami dan dijadikan terapi untuk beberapa penyakit. Propolis Raw bisa menjadi sumber pengobatan alternatif. [Editor : Mu’ammar Hamidy]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *