Suku Akit di Mekar Delima Masih Kental Adat Istiadat

Posted By admin on Oct 12, 2023


Bahtera Alam, Mekar Delima – Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan salah satu kabupaten yang banyak bermukim masyarakat Suku Akit. Berdasarkan sejarah baik dokumen maupun cerita turun temurun dari orang tua terdahulu, masyarakat Suku Akit sudah ada sejak zaman Kerajaan Siak dan tersebar di berbagai wilayah, salah satunya di Pulau Padang. Di pulau ini ada sebuah desa bernama Desa Mekar Delima, dan jumlah masyarakat Suku Akit di sini minoritas, sekira 10 persen saja, tapi uniknya adat istiadat suku Akit cukup kental di dalam keseharian komunitas ini.

Sejarah kehidupan Suku Akit cuma diketahui setelah Wakil Batin bernama Bujang menjabat, sementara sejarah sebelumnya tidak diketahui. Wakil Batin Bujang sejak lahir sudah berada di Pulau Padang, dan hidup semasa Kerajaan Siak dulu.

Wakil Batin Bujang ditunjuk oleh Batin Megat. Batin Megat bermukim di Kelemantan, Pulau Bengkalis dan menjadi Batin dengan daerah kekuasaan dari Meraut hingga Tanjung Padang. Sejauh ini kemungkinan asal usul Suku Akit yang ada di Pulau Padang berasal dari seberang yaitu Pulau Bengkalis karena di sana sudah terbentuk batin terlebih dahulu dan lebih jelas silsilahnya.

Masyarakat Suku Akit sejak dulu dikenal hidup secara berkelompok dan memiliki keahlian dalam memanfaatkan sumber daya alam baik di laut maupun di hutan. Pada zaman dulu, alat transportasi adalah sampan yang ciri khasnya betangkup dan belayo (sampan layar). Jadi pada masa itu masyarakat Suku Akit mengandalkan transportasi laut dan mencari kebutuhan dengan memanfaatkan hasil pesisir dan laut. Kemudian setelah itu, kehidupan mereka berangsur masuk ke arah darat dan mengelola kawasan daratan pulau. Hasil darat yang dicari adalah besonde yaitu mengambil getah sonde untuk dijual ke toke. Ada juga namanya jangkang, yaitu mengambil kulit kayu pohon getah untuk dianyam dan dijadikan bantal sagu (diirik). Selain itu ada namanya Bejerat, yaitu memasang jerat di dalam hutan. Jika yang terjerat rusa, maka itu adalah hak batin dan akan diserahkan ke batin, begitu pula madu lebah, juga akan diserahkan ke batin.

Hidangan yang disebut ‘Nasi besar, biasa dipersembahkan dalam perhelatan adat seperti acara pernikahan adat Suku Akit (Sumber : Bahtera Alam)

Keseharian masyarakat Suku Akit dalam memenuhi kebutuhan hidup, dilakoni oleh pihak laki-laki dan pihak perempuan. Suami bertugas menangkap ikan dengan melaut, sementara istri beserta anak-anak mencari buah mangrove, jenis-jenis kerang (siput, lokan, kijing, dan sejenisnya) di area pesisir.

Untuk kawasan darat, masyarakat Suku Akit memiliki keahlian dalam berburu di mana pada zaman dulu masyarakat Suku Akit mencari babi, rusa, kancil, dan lain sebagainya. Namun saat ini, karena hutan di kawasan tersebut sudah habis maka masyarakat Suku Akit beralih menjadi petani sagu dan sebagian masih menggantungkan hidupnya pada hasil alam di pesisir atau laut.

Kehidupan tradisional pada masyarakat Suku Akit di Desa Mekar Delima masih sangat kental, hal ini terlihat dari adat istiadat yang masih dijunjung tinggi di desa ini, seperti kegiatan ‘belo kampung’ sebagai tradisi tolak bala di desa, tradisi ‘tujuh likur’ sebagai bentuk berdoa untuk arwah seperti leluhur, dan kegiatan nikah kawin khas adat Suku Akit yang masih dipertahankan hingga saat ini. Selain itu, kepercayaan Suku Akit kepada spirit atau kekuatan arwah nenek moyang sangat tinggi, terlihat dari kebiasaan yang masih sering dijumpai pada warga Suku Akit yang berdoa di tempat-tempat yang dianggap keramat. [ba/mom]

Tulisan oleh : Ghulma Luthfi Hanifasyam.

60

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *